BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Psikologi merupakan sebuah ilmu yang cukup dinamis
perkembangannya. Keberadaan psikologi memberikan andil dalam mediskripsikan
berbagai kejadian yang dialami oleh manusia. Hingga saat ini tinjaun psikologi tidak
hanya berkutat pada kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum, pendidikan,
sosial, politik namun juga mencakup persoalan ekonomi, perbankan dan bidang
lainnya. Jika dilihat dari asal katanya psikologi berasal dari bahasa
Yunanai yakni psyche yang berarti jiwa, sukma, roh dan logos yang
berarti ilmu. Jadi secara harafiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa.
Psikologi semasa zaman Yunani Kuno hingga abad
ke 19 menjadi satu dengan filsafat. Oleh karenanya psikologi disebut pula psikologi
filosofis, artinya konsep-konsep psikologi membahas masalah hakikat jiwa.
Jadi konsep- konsepnya bersifat spekulatif dan pemikiran-pemikiran belaka.
Psikologi diakui
sebagai ilmu mandiri pada akhir abad ke-19. Selama dua abad sebelumnya,
berbagai model dikembangkan mengenai apa yang semestinya menjadi subjek studi
psikologi dan bagaimana studi tersebut dilakukan. Secara spesifik , selama abad
ke-17 dan ke-18, berbagai model psikologi saling bersaing untuk mendominasi
yang lain.
Psikologi sebagai ilmu akan selalu berkembang, seiring
dengan berkembangnya mazhab-mazhab dan teori-teori baru bermunculan.
Teori-teori yang muncul biasanya merupakan kritik dari teori-teori sebelumnya.
Istilah psikologi sebagai ilmu jiwa tidak
digunakan lagi sejak tahun 1878, yang dipelopori oleh J.B Watson sebagai ilmu
yang mempelajari perilaku. Hal ini dikarenakan, ilmu pengetahuan
menghendaki objeknya dapat diamati, dicatat dan diukur. Sedangkan jiwa
dipandang terlalu abstrak.
Melihat perkembangan psikologi yang sangat
dinamis tersebut maka penulis kali ini mencoba mengkaji kembali teori-teori
psikologi dan aliran-aliran psikologi dari masa ke masa. Pada pembahasan kali
ini akan dikaji pula berbagai metode atau pendekatan yang digunakan oleh
masing-masing aliran psikologi tersebut. Dari pembahasan tema ini diharapkan
mampu memberikan pengetahuan tentang perkembangan teori dan aliran psikologi
bagi penulis maupun pembaca.
Teori belajar dimunculkan oleh para psikolog
pendidikan setelah mereka mengalami kesulitan untuk menjelaskan proses belajar
secara menyeluruh. Sebagian psikolog
menghaluskan kesulitan ini dengan istilah : memperjelas pengertian dan proses
belajar. Belajar merupakan proses dimana seseorang dari tidak tahu menjadi
tahu. Proses belajar ini dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang
hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang
membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia
untuk belajar, terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia
mempunyai sejarah panjang dan telah menghasilkan beragam teori. Salah satu
teori belajar yang terkernal adalah teori belajar behavioristik (seiring
diterjemahkan secara bebas sebagai teori perilaku atau teori tingkah laku).
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu
proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar
dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam
merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Oleh karena itu dengan
adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan
model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Para psikolog bekerja
di banyak situasi terapan yang berbeda-beda, dan memiliki berbagai macam peran,
bahkan dalam lingkungan akademiapsikologi kontemporer cukup sulit
diidentifikasi. Penelitian dan pengajaran psikologi dilakukan di departemen
psikologi, ilmu kognitif, manajemen organisasi, dan hubungan social. Psikologi
tampaknya berkembang menuju diversifikasi yang lebih besar daripada menuju
suatu kesatuan kohesif.
B.
Rumusan masalah
1.
Apakah
Pengertian Belajar?
2.
Apa yang
dimaksud dengan Teori-Teori Psikologi?
3.
Apa saja
Aliran-Aliran Psikologi Belajar?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian belajar
2.
Untuk
mengetahui Teori-Teori Psikologi
3.
Untuk
mengetahui Untuk mengetahui
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar
Dalam konteks psikologi pembelajaran, pengertian
tentang belajar amat beragam. Dalam perspektif psikologi, belajar merupakan
suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Barlow (1985)
dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process dalam
Syah (1996) menyatakan bahwa belajar a process of progressive behavior
adaptation (belajar adalah proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku
yang berlangsung secara progresif).[1]
B. Teori-Teori Belajar
Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan
dengan stimulus respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons
makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya.[2] Diantara
sekian banyak teori yang berdasarkan hasil eksperimen, ada tiga teori yang
paling menonjol, yaitu Connectionism, Classical Conditioning, dan Operan
Conditioning. Dikatakan menonjol karena tiga teori diatas banyak mengilhami
dan mendorong para ahli melakukan eksperimen-eksperimen lainnya untuk
mengembangkan teori-teori baru yang juga berkaitan dengan belajar. Selain tiga
teori diatas, ada juga teori Pendekatan Kognitif dan teori psikologi Gestalt.
1.
Teori Koneksionisme (Connectionism)
Teori ini ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L.Thorndike (1874-1949)
berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimennya seperti
berikut ini:
“Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak
berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti: pengungkit, gerendel,
pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut.
Peralatan di atas ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut
memperolrh makanan yang tersedia di depan sangkar. Keadaan bagian dalam sangkar
yang disebut puzzle box ( peti teka teki) itu merupakan situasi stimulus yang
merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang
ada di muka pintu. Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan
berlari-larian, tapi gagal membuka pintu untuk memperolah makanan yang ada di
depannya. Akhirnya, entah bagaimana secara kebetulan kucing itu berhasil menekan
pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Eksperimen puzzle box ini
kemudian terkenal dengan nama instrumental conditioning, artinya tingkah laku
yang dipelajari berfungsi sebagai instrumental (penolong) untuk mencapai hasil
atau ganjaran yang dikehendaki”.
Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar
adalah hubungan antara stimulus dan respons. Dalam eksperimen Thorndike, ada dua hal pokok yang
mendorong timbulnya fenomena belajar. Pertama, kucing yang dalam keadaan lapar.
Seandainya, kucing itu dalam keadaan kenyang, mungkin tidak akan berusaha keras
untuk keluar. Bahkan, mungkin kucing tertidur dalam puzzle box yang
mengurungnya. Dengan perkataan lain, kucing tidak akan menunjukkan gejala
belajar untuk keluar sangkar. Oleh sebab itu, motivasi (seperti rasa lapar)
merupakan hal yang sangat vital dalam belajar. Kedua, tersedianya makanan di
muka pintu puzzle box. Makanan ini merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh
respond an kemudian menjadi dasar timbulnya hukum belajar yang disebut law
of effect. Artinya, jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan,
hubungan antara stimulus dan respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin
tidak memuaskan (mengganggu) efek yang dicapai respons, semakin lemah pula
hubungan stimulus dan respons tersebut.
2.
Teori Pembiasaan Klasikal (Classical Conditioning)
Teori ini berkembang
berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936),
seorang ilmuwan yang berkebangsaan
Rusia. Pada dasarnya classical conditioning merupakan sebuah prosedur
penciptaan refleks baru dengan cara
mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Kata classical yang
mengawali nama teori ini semata-mata dipakai untuk menghargai karya Pavlov yang
dianggap paling dahulu di bidang conditioning (upaya pembiasaan) dan
untuk membedakannya dari teori conditioning lainnya. Teori ini juga
dapat disebut respondent conditioning (pembiasaan yang dituntut) atau
dibiasakan.[3]
Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk
berespons terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain.[4] Dalam
eksperimennya, Pavlov menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan
antara conditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned
respons (CR), dan unconditioned respons (UCR). CS adalah rangsangan yang
mampu mendatangkan respons yang dipelajari, sedangkan respons yang dipelajari
itu sendiri disebut CR. Adapun UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons
yang tidak dipelajari, dan proses yang tidak dipelajari itu disebut UCR. Contoh
eksperimen Pavlov:
“Anjing percobaan Pavlov diikat
sedemikian rupa dan pada salah satu kelenjar kelenjar air liurya diberi alat
penampung cairan yang dihubungkan dengan pipa kecil (tube). Kemudian dilakukan
eksperimen berupa pemberian latihan pembiasaan mendengarkan bel (CS)
bersama-sama dengan pemberian makanan berupa serbuk daging (UCS). Setelah
latihan yang berulang-ulang ini selesai, suara bel tadi (CS) didengarkan lagi
tanpa disertai makanan (UCS). Apakah yang terjadi? Ternyata anjing percobaan
tadi mengeluarkan air liur juga (CR), meskipun hanya mendengarkan suara bel
(CS). Jadi, CS akan menghasilkan CR apabila CS dan UCS telah berkali-kali
dihadirkan bersama-sama. Dengan perkataan lain, pembiasaan akan muncul apabila
dilakukan latihan secra berulang-ulang”.
Berdasarkan eksperimen diatas, semakin
jelas bahwa belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan
antara stimulus dan respons. Kesimpulan dari eksperimen Pavlov adalah
untuk menjadikan seseorang itu belajar, kita harus
memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori
conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Penganut teori ini
mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain merupakan hasil
dari conditioning, yakni hasil dari latihan-latihan atau kebiasaan
mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsan-perangsang tertentu yang dialami
dalam kehidupannya.[5]
3.
Teori Pembiasaan Perilaku Respons (Operant Conditioning)
Pencipta teori ini adalah Burrhus Frederic Skinner ( lahir tahun 1904). Operant
adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap
lingkungan yang dekat.[6] Istilah
“operan” disini berarti operasi (operation) yang pengaruhnya
mengakibatkan organism melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya, misalnya
perilaku motor yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara sadar.[7] Berbeda
dengan respondent conditioning (yang responnya didatangkan oleh stimulus
tertentu), respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului
oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce.
Reinforce itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan
kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, akan tetapi tidak disengaja
diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical
respondent conditioning. Contoh eksperimen Skinner:
“Dalam rumusan teorinya. Skinner melakukan percobaan terhadap seekor
tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang dikenal dengan “Skinner Box”.
Peti yang digunakan sebagai sangkar tikus, terdiri atas dua macam komponen
pokok yaitu manipulandum dan alat pemberi reinforcement antara lain berupa
wadah makanan/ manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan
gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol,
batang jeruji, dan pengungkit”.
Dalam eksperimen tadi, mula-mula tikus itu mengeksplorasi sangkar dengan
cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar
dinding, dan sebagainya. Aksi-aksi seperti itu disebut emmited behavior (tingkah
laku yang terpancar), yaitu tingkah laku yang terpancar dari organism tanpa
memedulikan stimulus tertentu. Tanpa disengaja aktivitas tikus (emmited
behavior) melalui cakaran kaki atau moncongnya dapa menekan pengungkit.
Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam
wadah. Butir-butir makanan yang keluar itu merupakan reinforce (penguat)
bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah yang disebut tingkah
laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi dengan reinforcement,
yakni penguatan berupa butir-butir makanan yang muncul pada wadah makanan.
Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning juga
tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda, yakni: pertama, law of
operant conditioning, dalam hukum ini, apabila timbulnya tingkah laku operant
diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan
meningkat. Kedua, law of operant extinction, dalam hukum ini, apabila
tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning
itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut
akan menurun atau bahkan musnah.
4. Teori Pendekatan Kognitif
Pendekatan psikologi kognitif
lebih menekankan arti penting internal, dan mental manusia. Dalam pandangan
para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tidak dapa diukur dan
diterapkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesengajaan,
keyakinan, dan sebagainya. Menurut para ahli psikologi kognitif, aliran
behaviorisme itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak
memerhatikan proses kejiwaan yang berdimensi ranah cipta, seperti berpikir,
mempertimbangkan pilihan, dan mengambil keputusan. Itulah sebabnya pendekatan
kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristik. Akan tetapi,
pendekatan kognitif tidak anti terhadap pendekatan behavioristik.
Dalam perspektif psikologi
kognitif, belajar pada dasarnya merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa
behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral
tampak lebih nyata dalam hampir setiap belajar siswa. Secara lahiriah, seorang
anak yang sedang belajar membaca dan menulis, tentu menggunakan perangkat
jasmaniah seperti mulut dan tangan, tetapi perilaku mengucapkan kata dan
menggoreskan pena yang dilakukan anak tersebut bukan semata-mata respons atau
stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena dorongan mental yang
diatur oleh otaknya. Relevan dengan pernyataan diatas, Piaget seorang pakar
psikologi kognitif berkebangsaan Prancis, menyimpulkan bahwa: Children have
a built in desire to learn (anak-anak memilih kebutuhan yang melekat dalam
dirinya sendiri untuk belajar).[8]
5. Teori
Psikologi Gestalt
Dalam sebuah eksperimen,
Wolfgang Kohler, pendiri aliran psikologi psikologi Gestalt, menempatkan seekor
simpanse yang bernama Sultan ke dalam sangkar yang di dalamnya berisi dua
potongan bambu, yang satu berukuran kecil, satunya lagi besar garis tengahnya.
Di luar sangkar diletakkan sebuah pisang yang jaraknya tidak terjangkau, baik
oleh tangan Sultan maupun oleh salah satu dari kedua bambu itu. Selanjutnya,
Sultan yang telah mengerti cara meraih pisang ke dalam sangkar dengan sepotong
bambu, tidak berhasil mendapatka pisang tersebut dengan salah satu bambu yang
tersedia. Kemudian diletakkannya sepotong bambu di tanah dan didorongnya dengan
sepotong bambu lain, sehingga menyentuh pisang. Hal ini tidaklah memecahkan
problemnya, tetapi sekedar member kepuasan karena ia dapat mengadakan kontak
dengan pisang itu. Kemudian, kedua bamboo itu ditariknya kembali, lantas
dipermainkannya sampai akhirnya, secara kebetulan Sultan meletakkan ujung bambu
yang satu ke ujung bambu yang lain, sehinggan berwujud sebuah tongkat yang
cukup panjang, lalu larilah Sultan ke tepi sangkar dan menarik pisang tersebut.
Dalam kasus Sultan diatas,
berlakulah apa yang disebut dengan hukum “closure” dan “proksimitas”, yaitu
adanya kecenderungan yang kuat untuk memersepsi pola-pola yang tidak lengkap
sebagai keseluruhan seperti dalam persepsi, dan bahwa item-item yang saling
berdekatan cenderung untuk dikelompokkan. Belajar dalam pandangan psikologi Gestalt,
bukan sekedar proses asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama kian kuat
disebabkan adanya berbagai latihan atau ulangan-ulangan. Menurut aliran ini,
belajar itu terjadi apabila terdapat pengertian (insight). Pengertian
ini muncul jika seseorang setelah beberapa saat mencoba memahamisuatu problem,
tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur
yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-pautnya, untuk kemudian
dimengerti maknanya.[9]
C.
Aliran-Aliran Psikologi Belajar
1. Strukturalisme
Menurut Jean Piaget, stukturalisme ini
sulit dikenali karena mencakup bentuk-bentuk yang beragam sehingga sulit
menampilkan sifat umum dan karena “struktur-struktur” yang dirujuk memperoleh
arti yang cenderunng berbeda-beda. Mendasarkan pada isi dan struktur jiwa.
Setiap gejala psikis yang kompleks selalu memiliki karakteristik dari
elemen-elemennya. Elemen kejiwaan tersebut dikaitkan satu dengan yang lain oleh
asosiasi. Kaum strukturalis yang dipelipori oleh Wundt, menggunakan metode
intropeksi atau mawas diri, yaitu orang yang menjalani percobaan diminta untuk
menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia melakukan
eksperimen. Tokoh: Wilhelm Wundt.
2. Fungsionalisme
Mempelajari fungsi dan kegunaan jiwa. Metode
yang digunakan eksperimen dan observasi tingkah laku, ingin mengetahui mengapa
dan untuk apa suatu tingkah laku terjadi. Jiwa seseorang diperlukan untuk
melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri. Tokoh: William
James.
3. Psikoanalis
Untuk mengetahui gejala jiwa dibutuhkan
analisis sampai kepada ketidaksadarannya yang tertutup oleh alam kesadarannya. Kritik
terhadap psikologi Sigmund Freud(1856-1940) sebagai “bapak psikoanalis” lebih
didasarkan pada metodenya yang dianggap tidak baku, subjektif, dan jumlah klien
sedikit dan semuanya pasien klinis (penderita gangguan jiwa.
4. Behaviorisme
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi
yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus
Frederic Skinner. Mempelajari tingkah laku nyata, terbuka dan dapat diukur
secara obyektif, tidak perlu menggunakan metode introspeksi. Tokoh: J.B.
Watson.
5. Psikologi Gestalt
Max Wertheimer (1880-1943) seorang yang dipandang sebagai pendiri
dari Psikologi Gestalt, tetapi ia bekerjasama dengan dua temannya, yaitu Kurt
Koffka (1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967). Ketiga tokoh ini mempunyai
pemikiran yang sama atau searah. Kata Gestalt sesungguhnya sudah ada sebelum
Wertheimer dan kawan-kawan menggunakannya sebagai nama.
Muncul sebagai reaksi psikologi elemen. Gestalt=totalitas,
keseluruhan tidak sekedar unsur-unsur atau bagian dari totalitas yang secara
sendiri-sendiri tidak memiliki arti apa-apa. Tokoh: Von Ehrenfels, Wertheimer.[10]
Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan
siswa, para ahli berbeda pebdapat lantaran sudut pandang dan pendekatan mereka
terhadap eksistensi siswa tidak sama. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
dipapaparkan aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan siswa.
a. Aliran Nativisme
Nativisme (Nativism) merupakan sebuah
doktrin filosofis yang sangat berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran
psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Scopenhaeur (1788-1860),
seorang folosof Jerman.
Aliran nativisme mengemukakan bahwa manusia
yang baru dilahirkan telah memiliki bakat dan pembawwan, baik karena berasal
dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena memang ditakdirkan
demikian.
b. Aliran Empirisme
Aliran emprisme merupakan kebalikan dari
aliran nativisme, dengan contoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran
ini adalah”The scholl of British Empicism” (aliran empirisme Inggris).
Akan tetapi, aliran ini lebi berpengaruh pada pemikir Amerika Serikat, sehingga
melahirkan aliran filsafat bernama “environmental psychology” (psikologi
lingkungan) yang relative masih baru (Reber, 1988; Syah,1955).
Aliran empirisme mengemukakan bahwa anak
yang baru lahir laksana kertas yang putih bersih atau semacam tabula rasa
(tabula= meja, rasa= lilin), yaitu meja yang bertutup lapisan lilin. Kertas
putih bersih dapat ditulis dengan tinta warna apapun, dan warna tulisannya akan
sama dengan warna tinta tersebut. Begitu pula halnya dengan meja yang berlilin,
dapat dicat dengan warna-warni, sebelum ditempelkan. Anak diumpamakan bagaikan
kertas putih yang bersih, sedangkan warna tinta diumpamakan sebagai lingkungan
(pendidikan) yang akan berpengaruh terhadapnya; sudah pasti tidak mungkin
tidak. Pendidikan pun dapat membuat anak menjadi baik atau buruk. Pendidikan
dapat memegang peranan penting dalam perkembangan anak, sedangkan bakat
pembawaannya bisa ditutup dengan serapat-rapatnya oleh pendidikan.
c. Aliran Konvergensi atau Aliran Persesuaian
Aliran ini pada intinya merupakan perpaduan
antara pandangan aliran nativisme dan empirisme, yang keduanya dipandang sangat
berat sebelah. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan )
dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.
Tokoh utama aliran konvergensi adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang
filsuf, sekaligus sebagai psikolog Jerman.[11]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Psikologi
belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku
sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam
psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus respons dan
teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan
dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya. Diantara sekian banyak teori
yang berdasarkan hasil eksperimen, ada tiga teori yang paling menonjol, yaitu Connectionism,
Classical Conditioning, dan Operan Conditioning.
Adapu
aliran-aliran psikologi terbagi menjadi:
1
Strukturalisme
2
Fungsionalisme
3
Psikoanalis
4
Behaviorisme
5
Psikologi Gestalt
6
Aliran Nativisme
7
Aliran Empirisme
8
Aliran Konvergensi atau Aliran Persesuaian
B.
Saran
Demikian makalah ini disusun, tentu
masih banyak kekurangannya. Untuk itu kritik dan saran senantiasa penulis
harapkan demi perbaikan penyusunan makalah-makalah yang lain di masa mendatang.
Semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi semua, khususnya pagi
penulis. Amien.
DAFTAR PUSTAKA
Drs.Alex Sobur, MSi. 2003. Psikologi Umum.
Bandung: Pustaka Setia
Drs.Tohirin, Ms. MPd. 2008. Psikologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Hiryanto,
MSi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Setia
Ki Fudyartanta. 2012. Psikologi Perkembangan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[1] Drs.Tohirin, Ms. MPd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal 58-59.
[3] Drs.Tohirin, Ms. MPd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal 62-65.
[6]Drs.Tohirin,
Ms. MPd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal 66.
[8] Drs.Tohirin, Ms. MPd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal 66-72.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar