BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Masalah
Persoalan pembelajaran bahasa asing salah
satunya adalah bahasa Arab menjadi issu sentral dan sangat rumit bagi kalangan
akademis. Hal ini terjadi antara lain karena kekeliruan menerapkan strategi
pembelajaran. Padahal pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, telah diajarkan di
sekolah-sekolah pada umumnya,dan sekolah-sekolah agama pada khususnya,sejak
tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga tingkat Perguruan Tinggi.
Pembelajaran yang efektif adalah belajar
yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik melalui prosedur yang tepat.
Untuk tercipta suasana yang menyenangkan dan memaksimalkan hasil belajar yang
telah direncanakan (pembelajaran yang efektif) bagi peserta didik khususnya
anak tingkat Madrasah Ibtidaiyyah agar lebih mudah memahami bahasa Arab dan
lebih menyukainya,maka diperlukan strategi dan metode pembelajaran bahasa Arab
yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuannya.
- Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian metode pembelajaran?
2. Apa saja pembagian metode pembelajaran
bahasa Arab?
3. Apakah pengertian strategi pembelajaran?
4. Apa saja pembagian strategi Pembelajaran
bahasa Arab?
5. Bagaimana kriteria pemilihan strategi
pembelajaran bahasa Arab?
- Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian metode
pembelajaran.
2. Untuk mengetahui pembagian metode
pembelajaran bahasa Arab.
3. Untuk mengetahui pengertian strategi
pembelajaran
4. Untuk mengetahui pembagian strategi
pembelajaran bahasa Arab.
5. Untuk mengetahui kriteria dalam pemilihan
strategi pembelajaran bahasa Arab.
6. Untuk memudahkan para mahasiswa mengetahui
strategi dan metode yang tepat dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah
Ibtidaiyyah.
BAB II
PEMBAHASAN
- PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN
Metode berasal
dari bahasa Latin “Meta” dan “Hodos”. Meta artinya jauh (melampaui), Hodos artinya jalan (cara).[1] Dalam pemakaian yang umum,
metode dapat diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan
menggunakan fakta dan konsep secara sistematis.[2] Metode juga bisa diartikan sebagai sistematika
umum bagi pemilihan, penyusunan, serta penyajian materi kebahasan.[3] Selain pengertian
tersebut, metode juga merupakan sesuatu
yang bersifat praktis. Metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk
mencapai suatu tujuan. Metode pembelajaran (thariqah al-tadris/teaching method) adalah tingkat perencanaan program yang bersifat menyeluruh yang
berhubungan erat dengan langkah-langkah penyampaian materi pelajaran secara
prosedural, tidak saling bertentangan, dan tidak bertentangan dengan pendekatan
( ‘Abd al-Raziq, 2007). Dengan kata lain metode adalah langkah-langkah umum
tentang penerapan teori-teori yang ada pada pendekatan tertentu. Jadi bentuk
metode yang digunakan dalam pengajaran bahasa di lapangan tidak boleh
bertentangan dengan pendekatan, tetapi harus mendukung anggapan-anggapan yang
ada dalam pendekatan. Jika seorang pengajar bahasa misalnya menganut
pendekatan, maka metode yang digunakan harus menggali dan mengembangkan
kemampuan para pelajar dalam mendengar ( istima’/listening ) dan
berbicara (takallum/speaking) lalu membaca (qiraah/reading) dan
menulis (kitabah/writing).[4]
- PEMBAGIAN METODE PEMBELAJARAN
Sebagai seorang
guru harus mengerti bahwa kemampuan dan daya serap anak atau peserta didik itu
berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itulah, dalam menjalankan kegiatan
pembelajaran, guru perlu menggunakan metode yang tepat guna menyikapi fenomena
ini. Selain itu, anak mudah bosan jika setiap kali pembelajaran berjalan
stagnan dan kaku. Oleh karena itu, Roestiyah dalam bukunya Ulin Nuha menyatakan
bahwa dalam kegiatan belajar dan mengajar, guru harus menguasai serta memiliki
strategi agar anak dapat belajar dengan efektif dan efisien, dan mereka juga
dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu jalan untuk menguasai
strategi adalah menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa dikenal dengan
istilah metode mengajar. Oleh karena itulah, metode mengajar juga bisa disebut
sebagai strategi pengajaran dalam proses belajar dan mengajar. Adapun metode pembelajaran ada berbagai
macam,diantaranya:
1.
METODE KAIDAH DAN TERJEMAH
Asumsi yang
mendasari metode kaidah & terjemah adalah suatu logika semesta
(al-mathiq al-‘alami/ universal logic) yang menyatakan bahwa bahasa di
dunia dasarnya sama, dan tata bahasa adlah cabang dari logika. Untuk melihat
titik kesamaan itu, perlu dilakukan kajian tata bahasa asing yang dipelajari,
dan untuk melihat pokok pikiran yang terkandung oleh tulisan bahsa asing yang
dipelajari, perlu di adakan kegiatan transpormasi (terjemahan) kosa katadan
kalimat dalam bahasa asing yang di pelajari ke dalam kosa kata/ kalimat dalam
pelajar sehari-hari. Jadi inti kegiatan bahasa asing adalah menganalisa tata
bahasa, menulis kalimat, dan menghapal kosakata sebagai dasar transpormasinya
kedalam bahasa yang digunakan sehari-hari.
Ada dua
pendekatan teori yang mendasari penganjaran bahasa, yaitu teori tata bahasa
tradisional dan struktual. Keduanya memiliki pandangan yang saling
berseberangan dalam hal tata bahasa. Nababan mengatakan bahwa teori
tradisional menekankan adanya satu tata bahasa yang semesta (al-qawa’id
al-‘alamiyyah/universal grammar), sedangkan teori struktural memandang
bahwa struktur bahasa-bahasa di dunia tidak sama. Teori tradisional melihat
bahasa secara preskriptif, artinya bahasa yang baik dan benar adalah
menurut para ahli bahasa, bukan yang digunakan oleh penuutur asli yang di
lapangan. Berbeda dengan teori tradisional, teori stuktural melihat bahasa
secara deskriptif, artinya bahasa yang baik dan benar adalah yang
digunakan oleh penutur asli di lapangan.
Ba’labaki
(1990: 216) menjelaskan bahwa dasar pokok metode ini adalah hafalan kaidah,
analisa gramatika terhadap wacana, lalu terjemahnya kedalam bahasa yang
digunakan sebagai pengantar pelajaran. Sedangkan perhatian terhadap kemampuan
berbicara sangat kecil. Ini berarti bahwa titik tekan metode ini bukan melatih
para pelajar agar pandai berkomunikasi secara aktif, melainkan memahami bahasa
secara logis yang didasarkan kepada analisa cermat terhadap aspek kaidah tata
bahasa. tujuan metode ini menurut Al-Naqah (2010) adalah agar para pelajar
pandai dalam menghafal dan memahami tata bahasa, mengungkapkan ide-ide dengan
menerjemahkan bahasa ibu atau bahasa kedua ke dalam bahasa asing yang
dipelajari, dan membekali mereka agar mampu memahami teks bahsa asing dengan
menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari atau sebaliknya.
Berdasarkan
pernyataan tersebut ada dua aspek penting dalam metode kaidah & terjemah : pertama,
kemampuan menguasai kaidah tata bahasa ; dan kedua, kemampuan
menerjemahkan. Dua kemampuan ini adalah modal dasar untuk mentransfer ide atau
pikiran ke dalam tulisan dalam bahasa asing ( mengarang ), dan modal dasar
untuk memahami ide atau pikiran yang dikandung tulisan dalam bahasa asing yang
dipelajari ( membaca pemahaman ).
Dari konsep
dasar tersebut dapat dikemukakan beberapa karakteristik metode kaidah &
terjemah yaitu :
a.
Ada kegiatan disiplin mental dan pengenbangan intelektual dalam
belajar bahasa dengan banyak penghafalan, dan memahami fakta-fakta.
b.
Ada penekanan pada kegiatan membaca, mengarang dan terjemahan.
Sedangkan kegiatan menyimak dan berbicara kurang diperhatikan.
c.
Seleksi kosakata khususnya bedasarkan teks-teks bacaan yang
dipakai. Kosakata ini diajarkan melalui daftar-daftar dwibahasa, studi kamus
dan penghafalan.
d.
Unit yang mendasar ialah kalimat, maka perhatian lebih banyak di
curahkan pada kalimat sebab kebanyakkan waktu para pelajar dihabiskan oleh
aktivitas terjemahan kalimat-kalimat terpisah.
e.
Tata bahasa diajarkan secara deduktif, yaitu dengan penyajian
kaidah-kaidah bahasa seperti dalam bahasa Latin yang dianggap semesta ( al’alamiyyah/universal).
Ini kemudian dilatih lewat terjemahan-terjemahan.
f.
Bahasa pelajar sehari-hari ( bahasa ibu atau bahasa kedua )
digunakan sebagai bahan pengantar .
Di atas
kebaikan-kebaikannya yang cukup mewarnai pengajaran bahasa asing, metode kaidah
& terjemah harus menerima berbagai kritikkan tajam dari para ahli. Kritikan
ini sebagaimana digambarkan oleh Al-Khuli, (1983: 21) berikut ini:
a.
Metode ini terlalu mementingkan kecakapan membaca, menulis, dan terjemah,
tidak mementingkan kecakapan berbicara. Padahal kecakapan berbicara adalah
pokok dalam bahasa.
b.
Metode ini lebih mementingkan penggunaan bahasa ibu dan kedua.
Akibatnya perhatian terhadap penggunaan bahasa asing yang dipelajari menjadi
sedikit.
c.
Menggunakan metode ini berarti mengajar tentang bahasa asing, sebab
analisa kaidah tata bahasa secara mendetail sebenarnya termasuk kawasan analisa
ilmiah bahasa, bukan memantapkan kecakapan berbahasa.
Langkah-langkah
penggunaan metode kaidah dan terjemah,contoh penerapan metode yang mungkin
dilakukan oleh guru bahasa Arab adalah sebagai berikut ;
a.
Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaitan dengan materi yang
akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atau yang
lainnya.
b.
Guru memberikan pengenalan dan definisi kaidah-kaidah tertentu
dalam bahasa Arab yang harus dihapalkan sesuai dengan materi yang akan
disajikan, berikut terjemahannya dalam bahasa pelajar. Contoh: jika materi yang
akan disajikan mengandung kaidah mubtada-khabar, maka langkah yang akan
dilakukan adalah:
1)
Mengenalkan konsep mubtada-khabar berikut definisi keduanya
dan terjemahnya ke dalam bahasa pelajar.
2)
Memberikan contoh-contoh seperlunya, jika diperlukan mengadakan
perbandimgan dengan kaidah bahasa pelajar sehari-hari untuk membantu pemahaman
para pelajar.
3)
Setelah itu guru menjelaskan contoh-contoh seperlunya, misalnya:
هذا
تلميذ, Ù…ØÙ…د تلميذ,
أنتَ تلميذ, هذا قلم, القلم جديد
هذه
تلميذة, عائشة
تلميذة, أنتِ تلميذة, هذه
ØÙ‚يبة, الØÙ‚يبة جديدة
Dalam hal ini guru menjelaskan bahwa setiap dua kata yang
digarisbawahi pada contoh-contoh itu merupakan pasangan mubtada-khabar yang
tidak boleh tertukar, kemudian dianalisis sampai i’rabnya. Juga guru
menjelaskan bahwa ada kategori mudzakkar (laki-laki) dan muannas (perempuan)
yang masing-masing memiliki aturan yang berbeda.
4)
Setelah para pelajar benar-benar memahami konsep mubtada-khabar,
guru membimbing mereka untuk menghafalkan definisinya dengan disiplin.
c.
Jika ada kosa kata yang dipandang sulit untuk diterjemahkan, guru
menjelaskan kosakata sebelum menginjak ke langkah aplikasi.
d.
Guru memberikan materi teks bahasa Arab sebagai materi pokok
(diambil dari buku pegangan), lalu mengajak para pelajar untuk menerjemahkan
kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai ke paragraf demi paragraf. Para
pelajar setelah itu disuruh untuk mencocokkan kaidah-kaidah yang telah
dihafalkan dengan teks baru ini. Dalam hal ini diharapkan dengan mereka dpat
mengidentifikasi mubtada-khabar sebagaimana mubtada-khabar yang
telah meraka hafalkan, lalu menganalisis sampai detail sebagaimana poin 2 di
atas.
e.
Setelah para pelajar selesai mengidentifiksi mubtada-khabar dengan
baik, guru memberikan daftar kosakata untuk dihapalkan. Kata-kata itu lepas
dari konteks kalimat, dan guru menyuruh para pelajar untuk memberikan
terjemahan kosa kata itu.
f.
Sebagai kegiatan akhir, guru memberikan pekerjaan rumah yang berupa
persiapan terjemahan untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
Adapun kelebihan dan
kekurangan metode kaidah dan terjemah,yaitu:
Kelebihanya :
1.
Para pelajar bisa hapal kosakata dalam jumlah yang relatif banyak
dalam setiap pertemuan.
2.
Para pelajar mahir menerjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa
sehari-hari atau sebaliknya.
3.
Para pelajar bisa hapal kaidah-kaidah bahasa asing yang disampaikan
dalam bahasa sehari-hari karena senantiasa menggunakan terjemahan dalam bahasa
sehari-hari.
Kekurangannya:
1.
Analisis tata bahasa mungkin baik bagi mereka yang merancangnya,
tetapi tidak menutup kemungkinan dapat membingungkan para pelajar karena
rumitnya analisis itu.
2.
Terjemahan kata demi kata, kalimat demi kalimat sering mengacaukan
makna kalimat dalam konteks yang luas.
3.
Para pelajar mendapat pelajaran dalam satu ragam tertentu, sehingga
mereka tidak atau kurang mengenal ragam-ragam lainnya yang lebih luas.
4.
Para pelajar menghapalkan kaidah-kaidah bahasa yang disajikan
secara preskriptif. Mungkin saja kaidah-kaidah itu tidak berlaku bagi bahasa
sehari-hari.
5.
Para pelajar sebetulnya tidak belajar menggunakan bahasa asing yang
dipelajari, melainkan belajar membicarakan tentang “bahasa yang baru”.[5]
2.
Metode Langsung
Metode langsung
berasumsi bahwa belajar bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yakni
penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi. Para pelajar, menurut
metode ini, belajar bahasa asing dengan cara menyimak dan berbicara, sedangkan
membaca dan mengarang dapat dikembangkan kemudian, sebab inti bahasa adalah
menyimak dan berbicara. Oleh karena itu mereka harus dibiasakan berpikir dengan
bahasa asing. Maka untuk mencapai ini semua penggunaan bahasa ibu dan bahasa
kedua ditiadakan sama sekali. Bahkan unsur tata bahasa di dalam metode ini
tidak terlalu diperhatikan, sebab tekanan intinya adalah bagaimana agar pelajar
pandai menggunakan bahasa asing yang dipelajari. Tata bahasa hanya diberikan
melalui situasi (kontekstual) dan dilakukan secara lisan, bukan dengan cara
menghafalkan kaidah-kaidah.
Metode langsung
memiliki tujuan agar para pelajar mampu berkomunikasi dengan bahsa asing yang
dipelajarinya seperti pemilik bahasa ini. Dari konsep metode langsung di atas,
dapat dikemukakan bahwa karakteristik metode langsung adalah;
a.
Berbahasa adalah berbicara, maka berbicara merupakan aspek yang
harus diprioritaskan.
b.
Sejak dini pelajar dibiasakan berfikir dalam bahasa asing yang
dipelajari.
c.
Bahasa ibu dan bahasa
kedua atau terjemahan ke dalam dua bahasa tersebut tidak digunakan.
d.
Tidak begitu memperhatikan tata bahasa, kalaupun ada hanya
dibarikan dengan mengulang-ulang contoh kalimat secara lisan, bukan dengan
menjelaskan definisi atau menghapalnya.
e.
Ada asosiasi langsung antara kata-kata/ kalimat-kalimat dengan
makna yang dimaksud melalui peragaan/ demonstrasi, gerakan, mimik muka, gambar,
bahkan alam nyata.
f.
Untuk memantapkan pelajar dalam menguasai bahasa asing yang dipelajari,
pengajar membarikan latihan berulang-ulang dengan contoh dan hafalan.
Ada tiga
metode yang sangat lekat dengan metode langsung. Ketigaya memiliki titik tekan
dalam penggunaan bahasa Asing yang dipelajari secara langsung dalam proses
belajar mengajar, maka penggunaan bahasa ibu atau kedua sedapat mungkin
dihindari.
a.
Metode psikologi, disebut metode psikologi karena proses
pembelajarannya di dasarkan atas pengamatan perkembangan mental dan asosiasi
pikiran. Beberapa ciri yang melekat pada metode ini antara lain:
1)
Penggunaan benda, diagram, gambar,dan chart untuk menciptakan
gambaran mental dan menghubungkannya dengan kata yang ucapkan.
2)
Kosa kata dikelompokkan ke dalam ungkapan-ungkapan pendek yang berhubungan
dengan suatu masalah yang masih satu pelajaran.
3)
Pelajaran mula-mula diberikan secara lisan, kemudian diberikan
bagian demi bagian berdasarkan materi
dari buku.
4)
Jika sangat diperlukan, bahasa pelajar dapat digunakan.
5)
Pelajaran mengarang baru diperkenalkan setelah diberikan beberapa
pelajaran terlebih dahulu.
b.
Metode fonetik (al-thariqah al-shautiyyah/ phonetic method)
Metode ini dikenal juga dengan metode ucapan (al-thariqah
al-shautiyyah/ oral method). Disebut metode fonetik karena materi pelajaran
ditulis dalam nitasi fonetik, buka ejaan seperti yang lazim digunakan. Dalam
prakteknya metode ini mengawali proses pembelajaran dengan latihan pendengaran
terhadap bunyi. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan pengucapan kata, lalu
kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang. Selanjutnya kalimat-kalimat
tersebut dirangkaikan menjadi percakapan dan cerita.
c.
Metode alamiah (al-thariqah al-thabi’iyyah/ natural method)
Metode ini merupakan kelanjutan metode fonetik. Disebut alamiah
karena belajar bahasa Asing disamakan seperti belajar bahasa ibu. Belajar
bahasa ibu biasanya didasarkan kepada perilaku atau kebiasaan sehari-hari yang
berlangsung secara alamiah. Karena itu metode alamiah kadang-kadang disebut
metode kebiasaan (al-thariqah al-‘adiyyah/ custumary method). Di dalam
belajar bahasa ibu, seorang anak memulai menyerap bahasa dengan menyimak dan
meniru bahasa yang digunakan oleh orang dewasa, lalu iya mengucapkan apa yang
iya simak secara berulang-ulang.
Secara umum langkah-langkah yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut:
a.
Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaitan dengan materi yang
akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atang yang
lainnya.
b.
Guru membarikan materi berupa dialog-dialog pendek yang rileks,
dengan bahasa yang biasanya digunakan sehari-hari secara berulang-ulang.
c.
Pelajar diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu
menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancar.
d.
Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan
teman-temannya secara bergiliran.
e.
Struktur/ tata bahasa diberikan dengan menganalisa nahwu, melainkan
dengan memberikan contoh-contoh secara lisan yang sedapat mungkin menarik
perhatian pelajar untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan sendiri. Misalnya di
dalam percakapan di atas ada pola mubtada-khabar, dalam hal ini cukum
dengan menyebutkan:
ما هذا ؟ هذا
=> قلم
ما هذه ؟ هذه => ØÙ‚يبة
Tentu saja
tidak dengan menjelaskan atau menghapal definisi, melainkan dengan
mengulang-ulang contoh secara lisan sambil menunjukkan pasangannya agar pelajar
tidak keliru antara mu’annas dan mudzakkar. Penyajian ini
memungkinkan untuk dibantu dengan alat peraga, misalnya berupa kartu yang
memasangkan pola-pola kaidah yang dimaksud.
Adapun kelebihan dan kekurangan metode langsung,yaitu:
- Kelebihannya:
a)
Dengan kedisiplinan mendengarkan dan menggunakan pola-pola dialog
secara teratur para pelajar bisa terampil dalam menyimak dan berbicara, sebab
prioritas utamanya memang menyimak dan berbicara.
b)
Dengan banyak peragaan/ demonstrasi, gerakan, penggunaan gambar,
bahkan belajar di alam nyata para pelajar bisa mengatahui banyak kosa kata.
c)
Dengan banyak latihan pengucapan secara ketat dalm bimbingan guru
para pelajar bisa memiliki lafal yang relatif lebih mendekati penutur asli.
d)
Para pelajar mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap,
khususnya mengenai topik-topikyang sudah dilatih dalam kelas.
- Kekurangannya:
a)
Metode ini memiliki prinsip-prinsip yamg mungkin dapat diterima
oleh sekolah-sekolah yang jumlah pelajarnya tidak banyak. Maka kemungkinan akan
mendapat kesulitan jika diterapkan di sekolah-sekolah yang jumlah pelajarnya
banyak.
b)
Medote ini menuntut para guru yang mempunyai kelancaran berbicara
seperti penutur asli.
c)
Metode ini mengadalkan kemahiran guru dalam menyajikan meteri,
bukan buku-buku teks yang baik.
d)
Metode ini menghindari pengguaan bahasa ibu dan bahasa kedua atau
terjemahan. Hal ini justru bisa menghambat kemajuan pelajar, sebab banyak waktu
dan tenaga terbuang dalam menerangkan kata yang abstrak (tidak bisa diragakan
atau digambarkan) atau konsep tertentu dalam bahasa asing.
e)
Kesalahan yang keluar dari guru akan sulit diketahui dibandingkan
dengan kesalahan yang keluar dari pelajar, sebab jika pelajar melakukan
kesalahan dalam pola-pola tertentu maka dapat dideteksi segera.
f)
Jika dicermati konsep yang mengatakan bahwa pemerolehan bahasa ibu
dengan bahasa kedua dan bahasa asing itu sama, maka secara psikologis konsep
ini tidak memiliki dasar teori yang kuat.[6]
3.
Metode Audiolingual
Metode
audiolingual adalah metode mendasarkan diri kepada pendekatan struktual dalam
pembelajaran bahasa. sebagai implikasinya metode ini menekankan penelaahan dan
pendeskripsian suatu bahasa yang akan dipelajari dengan memulainya dari sistem
bunyi (fonologi), kemudian sistem pembentukkan kata (morfologi), dan sistem
pembentukkan kalimat (sintaksis). Karena menyangkut struktur bahasa secara
keseluruhan, maka dalam hal ini juga ditekankan sistem tekanan, nada, dan
lain-lain. Maka bahas tujuan diajarkan dengan mencurahkan perhatian pada lafal
kata, dan pada latihan berkali-kali (drill) secara intensif. Jika
melihat konsep dasarnya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
aplikasinya, yaitu:
- Pelajar harus menyimak, kemudian
berbicara, lalu membaca, dang akhirnya menulis.
- Tata bahasa harus disajikan dalam bentuk
pola-pola kalimat atau dialog-dialog dengan topik situasi-situasi
sehari-hari.
- Latihan (drill/ al-tadribat) harus
mengukuti operant-conditioning seperti yang telah dijelaskan. Dalam hal
ini hadiah adalah beik diberikan.
- Semua unsur tata bahasa harus disajikan
dari yang mudah kepada yang sukar atau bertahap.
- Kemungkinan-kemungkinan untuk membuat
kesalahan dalam memberikan respon harus dihindari, sebab penguatan positif
dianggap lebih efektif daripada penguatan negatif.
Terlihat bahwa
metode audiolingual pada dasarnya tidak hanya menekankan latihan dan pembiasaan
para pelajar untuk membentuk kecakapan berbahasa, tetapi juga kecermatan
pengajar dalam membimbing mereka sangat diperhatikan.
Untuk mencapai
tujuan yang diharapkan, dipeerlukan langkah-langkah yang dianggap cocok.
Misalnya saja langkah yang dipilih adalah sebagai berikut:
a. Pendahuluan,
memuat berbagai hal yang berkaiatan dengan materi yang akan disajikan baik
berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atau yang lainnya.
b. Penyajian
dialog/ bacaan pendek yang dibacakan oleh guru berulang kai, sedangkan pelajar
menyimaknya tanpa meluhat pada teks.
c. Peniruan dan
penghapalan dialog/ bacaan pendek dengan teknik meniru setiap kalimat secara
serentak dan menghapalkannya. Didalam pengajaran bahasa, teknik ini dikenal
denga teknik “peniruan-penghapalan”.
d. Penyajian
pola-pola kalimat yang terdapat dalam dialog/ bacaan yang dianggap sulit karena
terdapat struktur atau ungkapan-ungkapan yang sulit.
e. Dramatisasi
dari dialog/ bacaan yang sudah dilatihkan, pelajar yang sudah hapal disuruh
mempergunakannya di muka kelas.
f. Pembentukkan
kalimat-kalimat lain yang sesuai dengan pola-pola kalimat yang sudah ada
dilatihkan.
g. Penutupan (jika
perlu) misalnya dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Dalam hal
ini pelajar disuruh berlatih kembali dalam menggunakan pola-pola yang sudah
dipelajarinya di sekolah.
Adapun kelebihan dan kekurang metode audiolingual
- Kelebihannya:
a)
Para pelajar menjadi terampil dalam membuat pola-pola kalimat yang
sudah di-drill.
b)
Para pelajar mempunyai lafal yang baik atau benar
c)
Para pelajar tidak tinggal diam dalam dialog tetapi harus terus
menerus memberi respon pada rangsangan yang diberikan oleh guru.
- Kekurangannya:
a)
Para pelajar cenderung untuk memberikan respon secara serentak
(atau secara individual) seperti “membeo”, dan sering tidak mengetahui makna
yang diucapkannya. Respon ini terlalu mekanitis.
b)
Para pelajar tidak diberi latihan dalam makna-makna lain dari
kalimat yang dilatih bedasarkan konteks. Sebagai akibatnya mereka hanya menguasai
satu makna atau arti dari suatu kalimat, dan komunikasi hanya dapat lancar
apabila kalimat-kalimat yang digunakan diambil dari kalimat-kalimat yang sudah
dilatihkan dikelas, bahkan pengajaran struktur kalimat lebih menekankan aspek
reseptif.
c)
Sebetulnya para pelajar tidak berperan aktif tetapi hanya
memberikan respon pada rangsangan yang diberika oleh guru. Jadi gurulah yang
menentukan semua latihan dan materi pelajaran di kelas. Dialah yang mengetahui
jawaban atas semua pertannyaan yang diajukan di kelas. Dengan kata lain
penguasaan kegiatan dalam kelas dapat disebut “dikuasai sepenuhnya oleh guru”.
d)
Metode ini berpendirian bahawa jika pada tahap-tahap awal para
pelajar tidak/ belum mengerti makna dari kalimat-kalimat yang ditirunya, tidak
dianggap sebagai hal yang meresahkan. Selanjutnya dengan menyimak apa yang
dikatakan oleh guru, memberi respon yang benar, den melakukan semua tugas tanpa
salah, pelajar sudah dianggap belajar bahasa tujuan dengan benar. Jika
dianalisis pendirian ini kurnag dapat diterima, sebab meniru tanpa mengetahui
makna adalah suatu aktivitas yang mubadzir.[7]
4.
Metode Membaca
Salah satu
kegiatan pentig untuk memperoleh informasi itu adalah membaca, mulai dari
membaca nyaring sampai pemahaman. Dari sini jelaslah bahwa metode membaca selain
menekankan kemampuan membaca diam untuk pemahaman, juga memandang penting
kemampuan pengucapan yang benar, sehingga membaca secara nyaring merupakan
kegiatan yang banyak dilatihkan.
Dengan demikian
dapat dikemukan bahwa dasar metode membaca adalah penguasaan bahasa
asing dengan memulainya dari penguasaan unsur bahasa yang terkecil, yaitu
kosakata, yang didahului oleh latihan pengucapan yang benar, lalu pemahaman.
Penguasaan unsur bahasa yang terkecil akan menentukan penguasaan bahasa secara
keseluruhan. Sedangkan pengucapan kata dan pelafalan kalimat yang baik dan
benar merupakan modal dasar membaca yang baik dan benar.
Adapun langkah-langkah penggunaan metode membaca,yaitu:
a.
Pendahuluan, berkaitan dengan
berbagai hal tentang materi yang akan disajikan baik berupa appersepsi, atau
tes awal tentang materi, atau yang lainnya.
b.
Pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar. Ini diberikan
denga definisi-definisi dan contoh-contoh dalam kalimat.
c.
Penyajian teks bacaan tertentu. Teks ini dibaca secara diam selama
kurang lebih 10-15 menit atau disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia.
Bisa juga guru menugaskan para pelajar untuk membaca teks ini di rumah
masing-masing pelajar sebelum pertemuan ini. Cara ini nampaknya lebih menghemat
waktu, sehingga guru dapat lebih leluasa mengembangkan bacaan di kelas.
d.
Diskusi mengenai isi bacaan. Langkah ini dapat berupa dialog dengan
bahasa pelajar.
e.
Pembicaraan atau penjelasan tentang tata bahasa secara singkat jika
diperlukan untuk membantu pemahaman pelajar tentang isi bacaan.
f.
Jika guru di awal pertemuan belum membarikan penjelasan kosakata
yang dianggap sukar dan relevan denga materi pelajaran, maka pada langkah ini
bisa dilakukan.
g.
Di akhir pertemuan guru memberikan tugas kepada para pelajar
tentang isi bacaan, misalnya: membuat rangkuman dengan bahasa pelajar, atau
membuat komentar tentang isi bacaan, atau membuat diagram, atau yang lainnya.
Jika dipandang perlu, guru dapat memberikan tugas rumah untuk membaca teks yang
akan diberikan pada pertemuan selanjutnya (seperti pada poin no 3 di atas).
Adapun kelebihan dan kekurangan metode membaca,yaitu:
- Kelebihannya:
a)
Memberikan kemampuan membaca yang baik kepada para pelajar bahasa
asing baik membaca nyaring yang melibatkan pengucapan, maupun mmbaca pemahaman.
b)
Membaca yang baik adalah komunikasi pembaca dengan bahan bacaan.
Komunikasi ini adalah modal untuk memahami isi bacaan dengan baik.
c)
Kemampuan membaca yang tinggi memudahkan pembaca untuk memahami
budaya bahasa asing yang dipelajari.
- Kekurangannya:
a)
Metode membaca mungkin cocok diberikan kepada para pelajar yang
gemar membaca, tetapi kurang cocok bagi mereka yang tidak gemar membaca. Bisa
jadi yang tidak gemar membaca akan mengalami kejenuhan belajar.
b)
Terlalu menekankan perhatian kepada kemampuan membaca dapat mengakibatkan
kurangnya kemampuan pelajar berkomunikasi secara lisan dengan bahasa asing yang
dipelajari.
c)
Membaca yang cepat kadang-kadang hanya memperhatikan aspek
kuantitas, sedangkan aspek kualitas diabaikan. Ini mengakibatkan pemahaman
tidak mendalam terhadap suatu persoalan dalam bacaan.
h.
Metode Gabungan
Yang dimaksud gabungan di sini tentu saja bukan menggabungkan semua
metode yang ada sekaligus, melainkan lebih bersifat “tambal-sulam” , artinya
suatu metode tertentu dipandang dapat mengatasi kekurangan metode yang lain.
Munculnya metode gabungan dengan demikian merupakan
kreativitas para pelajar bahasa asing untuk mengefektifkan proses belajar
mengajar bahasa asing. Metode ini juga sekaligus memberikan kebebasan kepada
mereka untuk menciptakan variasi metode.
Ada enam (6) hal yang menjadikan pijakan metode gabungan
sebagaimana dijelaskan oleh Al-khuli (1983: 26) :
- Setiap
metode pengajaran bahasa asing memiliki kelebihan. Kelebihan ini bisa
dimanfaatkan dalam pengajaran bahasa asing.
- Tidak
ada metode yang sempurna, dan juga tidak ada metode yang jelek, tetapi
semuanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan metode tertentu bisa
jadi dapat mengatasi kelemahan metode tertentu.
- Setiap
metode memiliki latar belakang, karakteristik, dasar pikiran, dan
peruntukan yang berbeda, bahkan bisa jadi suatu metode muncul karena
menolak metode sebelumnya. Jika metode-metode tersebut digabungkan, maka
akan menjadi suatu kolaborasi yang saling menyempurnakan.
- Tak
ada satu metode pun yang sesuai dengan semua tujuan, semua siswa, semua
guru, dan semua program pengajaran bahasa asing.
- Hal
yang penting dalam mengajar adalah memberi perhatian kepada para pelajar
dan kebutuhannya, bukan menguasai metode tanpa didasarkan kepada pelajar
dan kebutuhannya.
- Setiap
guru bahasa asing diberi kebebasan untuk menggunakan langkah-langkah atau teknik-teknik
dalam menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan para
pelajarnya dan sesuai dengan kemampuannya.
Langkah-langkah
penggunaan metode gabungan,Misalnya
langkah yang ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:
- Pendahuluan,
sebagaimana metode-metode lain.
- Memberikan
materi berupa dialog-dialog pendek dan rilek, dengan tema kegiatan
sehari-hari secara berulang-ulang. Materi ini mula-mula disajikan secara
lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi,
atau gambar-gambar.
- Para
pelajaran diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu
menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancar.
- Para
pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya
secara bergiliran.
- Setelah
lancar menerapkan dialog-dialog yang telah dipelajari, mereka diberi teks
bacaan yang temanya berkaitan dengan dialog-dialog tadi. Selanjutnya guru
memberi contoh cara membaca yang baik dan benar, diikuti oleh para pelajar
secara berulang-ulang.
- Jika
terdapat kosakata yang sulit, guru memaknainya mula-mula dengan isyarat,
atau gerakan, atau gambar, atau lainnya. Jika tidak mungkin dengan ini
semua, guru menerjemahkannya ke dalam bahasa pelajar.
- Guru
mengenalkan beberapa struktur yang penting dalam teks bacaan, lalu
membahasnya seperlunya.
- Guru
menyuruh para pelajar menelaah bacaan, lalu mendiskusikan isinya.
- Sebagai
penutup, jika diperlukan, evaluasi akhir berupa pertanyaan-pertanyaan
tentang isi bacaan yang telah dibahas. Pelaksanaannya bisa saja secara
individual atau kelompok, sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika tidak
memungkinkan karena waktu, misalnya, guru dapat menyajikannya berupa tugas
yang harus dikerjakan dirumah masing-masing pelajar.
Adapun kelebihan dan
kekurangan metode gabungan,yaitu:
Walaupun terlihat kegiatannya lebih
variatif, kemampuan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing dipandang lebih
merata, namun menggunakan metode gabungan nampaknya akan bermasalah dengan
kesediaan guru dan siswa, dan alokasi waktu.
Belum tentu semua guru sanggup melakukan serangkaian kegiatan
mengajar yang begitu banyak dan bervariasi. Penggunaan metode ini nampaknya
menuntut adanya guru yang segala bisa dan energik. Begitu juga di pihak
pelajar. Biasanya kegiatan yang terlalu banyak malah bisa menimbulkan kejenuhan
belajar, apalagi jika materi dibawakan secara menonton. Waktu yang diperlukan
juga relatif lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode yang lain,
padahal umumnya alokasi waktu pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonrsia
terbatas, kecuali di sekolah-sekolah tertentu yang memberikan perhatian lebih
kepada bidang studi bahasa Arab.[8]
- PENGERTIAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi berasal dari bahasa Yunani yang
berarti ilmu perang. Berdasarkan pengertian ini, maka strategi adalah suatu
seni merancang opreasi didalam peperangan seperti cara-cara mengatur posisi
atau siasat berperang. Strategi dapat juga diartikan suatu keterampilan
mengatur kejadian atau peristiwa. Secara umum sering dikemukakan bahwa strategi
merupakan suatu teknik yang digunakan mencapai suatu tujuan.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, strategi
adalah ilmu siasat perang untuk mencapai sesuatu. Apabila dihubungkan dengan pengertian
strategi dalam pembelajaran bahasa Arab, strategi merupakan rencana yang cermat
mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Sedangkan dalam konteks pembelajaran ,
menurut Gagne strategi adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir,
memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Artinya bahwa proses pembelajaran
akan menyebabkan peserta didik berpikir secara unik untuk menganalisis,
memecahkan masalah dalam mengambil keputusan. Peserta didik akan mempunyai
control yang tinggi yaitu analisis yang tajam, tepat dan akurat.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan
siswa agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif dan efisien srtartegi juga berarti sebuah cara tertentu
untuk menagani sebuah problematika atau pekerjaan.
Strategi ini berbentuk tindakan tindakan
untuk menghasilkan sesuatu, atau rencana-rencana yang mengatur dan menangani
pengetahuan tertentu sehingga strategi selalu berkembang satu sama lain, hari
demi hari, tahun semi tahun. Adapun upaya untuk mengimplementasikan rencana
yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat
tercapai secara optimal, inilah yang dinamakan metode.
Ini berarti, metode digunakan untuk
merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, dapat terjadi
satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Oleh karena itu, strategi
berbeda dengan metode, strategi menunjukkan pada sebuah perencanaan untuk
mencapai sesuatu sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk
melaksanakan strategi. Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan
strategi adalah pendekatan (approach) dalam bahasa arab di sebut
al-madkhal. Sebenarnya pendekatan berbeda dengan strategi maupun metode.
Menurut Edwar Anthony (1963) pendekatan
adalah seperangkat asumsi berkenaan hakekat bahasa dan belajar mengajar
bahasaKurang efektifnya pembelajaran bahasa Arab yang ada disekolahsekolah dan
pondok pesantren salah satu penyebabnya adalah pendekatan dan strategi yang
digunakan kurang sesuai dengan jiwa dan karakter peserta didik.
- PEMBAGIAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi sebagai dasar pembelajaran menurut
newman dan logan
meliputi empat komponen utama, yaitu:
1.
Mengefektikan tujuan pembelajaran;
Keaktifan belajar siswa dalam bahasa
menjadi kunci, baikaktif belajar maupun penegembangan materi kebahasaan. Strategi
yang diambil harus senantiasa bermuara untuk menciptakan keaktifan, baik secara
fisik maupun mental, akan tetapi aktif mental lebih diutamakan.
2. Menentukan kembali pendekatan pembelajaran
Dalam belajar bahasa,seseorang diberi
kebebasan untuk menggunakan strategi yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun,
yang perlu diperhatikan adalah strategi yang dapat menggugah semangat untuk
mengembangkan ilmu yang telah diterima. Sehingga peserta didik setelah belajar
merasa ilmu yang sedang dipelajari bermanfaat dan mempunyai keberanian untuk mengekspresikan
ide atau gagasan kepada teman
3. Menetapkan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir.
Belajar bahasa Arab harus mengikuti pola tadarruj
(dari
yang mudah sampai ke yang sulit).
4. Menetapkan ukuran keberhasilan.
- KRITERIA PEMILIHAN STARTEGI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Pemilihan strategi dalam pembelajaran
bahasa Arab memuat dua hal penting yakni pemilihan strategi belajar yang
dilakukan oleh peserta didik dan pemilihan strategi mengajar yang harus
dilakukan oleh tenaga pendidik Strategi mengajar mengacu pada prilaku dan
proses berpikir yang digunakan peserta didik, sedangkan strategi mengajar berkaitan
dengan pendekatan, metode dan teknik yang dikuasai dan digunakan pengajar dalam
pembelajaran.
Pemilihan strategi pembelajaran Bahasa Arab dapat
berdasarkan pertimbangan atau Kriteria sebagai berikut :
1. Tujuan Belajar
Startegi pembelajaran harus dipilih sesuai
dengan tujuan belajar yang diharapkan dapat dicapai peserta didik. Tujuan belajar
merupakan titik tolak penentuan strategi yang akan digunakan. Misalnya tujuan
belajar siswa dapat memahami jumlah ismiah. Dengan demikian metode yang dipakai
sebagai bagian dari strategi adalah menggunakan metode qawa’id dan terjemah.
2. Materi atau isi pelajaran
Peranan materi atau isi pelajaran yaitu,
pertama, mencerminkan suatu sudut pandang yang tajam dan inovatif mengenai
pengajaran serta mendemontrasi aplikasinya dalam bahan ajar yang disajikan.
Kedua, menyajikan suatu sumber pokok masalah yang kaya, mudah dibaca dan
bervariasi sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik, ketiga menyedia
sumber yang tersusun rapi dan bermanfaat, keempat, menyajikan metode-metode dan
sarana-sarana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik, kelima menjadi
penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis keenam, menyajikan bahan
evaluasi dan remedial.
3. Peserta Didik
Peserta didik sebagai orang yang belajar
merupakan subjek dalam proses pembelajaran. Dalam pemilihan strategi pembelajaran
yang efektif harus memperhatikan karakteristik peserta didik yang memiliki
potensi dan firah yang dimiliki dan sekaligus harapan untuk berkembang kearah
yang lebih baik dan menjadi pribadi yang sempurna. Adapun karakteristik peserta
didik adalah sebagai berikut :
a. Kematangan mental dan kecakapan intelektual
b. Kondisi pisik dan kecakapan psikomotor
c. Umur
d. Jenis kelamin
4. Kondisi pendidikan dimana berlansung
Efektif tidaknya suatu strategi
pembelajaran sangat dipengaruhi kemampuan guru memakainya disamping kepribadian
guru.
5. Waktu,
Waktu yang tersedia perlu diperhatikan ketika meyampaikan materi
bahasa Arab dengan menggunakan strategi tamsil atau al naql sementara waktu
yang disediakan hanya menit. Maka waktu tersebut harus diguna seefektif mungkin
sehingga kompetensi dasar peserta didik dapat tercapai.
6. Sarana yang dapat dimanfaatkan.
7. Biaya.[9]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Metode pembelajaran adalah tingkat
perencanaan program yang bersifat menyeluruh yang berhubungan erat dengan
langkah-langkah penyampaian materi pelajaran secara prosedural,tidak saling
bertentangan, dan tidak bertentangan dengan pendekatan. Metode pembelajaran
Bahasa Arab ada berbagai macam, diantaranya metode kaidah dan terjemah, metode
langsung,metode audiolingual,metode membaca,dan metode gabungan. Strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan
siswa agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif dan efisien srtartegi juga berarti sebuah cara tertentu
untuk menagani sebuah problematika atau pekerjaan. Strategi pembelajaran
meliputi empat komponen utama, diantaranya mengefektifkan tujuan pembelajaran,
menentukan kembali pendekatan pembelajaran,menetapkan langkah-langkah yang
ditempuh dari awal sampai akhir,dan menetapkan ukuran keberhasilan.Selain
itu,dalam pemilihan strategi belajar harus memperhatikan beberapa
criteria,diantaranya,tujuan belajar,materi atau isi pelajaran,peserta
didik,kondisi pendidkan dimana berlangsung, waktu, sarana yang dimanfaatkan
serta biaya.
DAFTAR PUSTAKA
Hamid,Abdul,Et.al,Pembelajaran Bahasa
Arab,Pendekatan,Metode,Strategi dan
Media.
Hermawan,Acep,Metodologi Pembelajaran
Bahasa Arab.Bandung,PT Remaja
Rosdakarya,2011.
Naifah,Teratai Metode Pembelajaran
Bahasa Arab Efektif,Aplikatif.Semarang,
Fakultas
Tarbiyah IAIN Wali Songo,2012.
Nuha,Ulin,Metodologi Super Efektif
Pembelajaran Bahasa Arab.Jogjakarta, Diva
Press,2012.
Yusraini,Strategi Pembelajaran Bahasa
Arab dan Implikasinya Terhadap Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab.pdf
[1] Naifah, Teratai
Metode Pembelajaran Bahasa Arab Efektif Aplikatif, (Semarang: Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2012), hlm. 37.
[2] Ulin Nuha, Metodologi
Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, (Jogjakarta: DIVA Press, 2012),
hlm 159.
[3] Abdul Hamid dkk,Pembelajaran
Bahasa Arab Pendekatan, Metode,Strategi dan Media, hlm. 3.
[5] Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 169-175.
[6] Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 175-184.
[7] Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 184-192.
[8] Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 192-199.
[9] Yusraini,Strategi Pembelajaran Bahasa Arab dan
Implikasinya Terhadap Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab.pdf Diakses
pada tanggal 26 september 2016 pukul 13.32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar