Rabu, 25 April 2018

metode dalam pembelajaran bahasa Arab


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Persoalan pembelajaran bahasa asing salah satunya adalah bahasa Arab menjadi issu sentral dan sangat rumit bagi kalangan akademis. Hal ini terjadi antara lain karena kekeliruan menerapkan strategi pembelajaran. Padahal pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, telah diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya,dan sekolah-sekolah agama pada khususnya,sejak tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga tingkat Perguruan Tinggi.
Pembelajaran yang efektif adalah belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik melalui prosedur yang tepat. Untuk tercipta suasana yang menyenangkan dan memaksimalkan hasil belajar yang telah direncanakan (pembelajaran yang efektif) bagi peserta didik khususnya anak tingkat Madrasah Ibtidaiyyah agar lebih mudah memahami bahasa Arab dan lebih menyukainya,maka diperlukan strategi dan metode pembelajaran bahasa Arab yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuannya.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian metode pembelajaran?
2.      Apa saja pembagian metode pembelajaran bahasa Arab?
3.      Apakah pengertian strategi pembelajaran?
4.      Apa saja pembagian strategi Pembelajaran bahasa Arab?
5.      Bagaimana kriteria pemilihan strategi pembelajaran bahasa Arab?

  1. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian metode pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui pembagian metode pembelajaran bahasa Arab.
3.      Untuk mengetahui pengertian strategi pembelajaran
4.      Untuk mengetahui pembagian strategi pembelajaran bahasa Arab.
5.      Untuk mengetahui kriteria dalam pemilihan strategi pembelajaran bahasa Arab.
6.      Untuk memudahkan para mahasiswa mengetahui strategi dan metode yang tepat dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyyah.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN
Metode berasal dari bahasa Latin  “Meta”  dan “Hodos”. Meta  artinya jauh (melampaui), Hodos  artinya jalan (cara).[1] Dalam pemakaian yang umum, metode dapat diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan menggunakan fakta dan konsep secara sistematis.[2]  Metode juga bisa diartikan sebagai sistematika umum bagi pemilihan, penyusunan, serta penyajian materi kebahasan.[3] Selain pengertian tersebut, metode juga merupakan sesuatu  yang bersifat praktis. Metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Metode pembelajaran (thariqah al-tadris/teaching method) adalah tingkat perencanaan program yang bersifat menyeluruh yang berhubungan erat dengan langkah-langkah penyampaian materi pelajaran secara prosedural, tidak saling bertentangan, dan tidak bertentangan dengan pendekatan ( ‘Abd al-Raziq, 2007). Dengan kata lain metode adalah langkah-langkah umum tentang penerapan teori-teori yang ada pada pendekatan tertentu. Jadi bentuk metode yang digunakan dalam pengajaran bahasa di lapangan tidak boleh bertentangan dengan pendekatan, tetapi harus mendukung anggapan-anggapan yang ada dalam pendekatan. Jika seorang pengajar bahasa misalnya menganut pendekatan, maka metode yang digunakan harus menggali dan mengembangkan kemampuan para pelajar dalam mendengar ( istima’/listening ) dan berbicara (takallum/speaking) lalu membaca (qiraah/reading) dan menulis (kitabah/writing).[4]
  1. PEMBAGIAN METODE PEMBELAJARAN
Sebagai seorang guru harus mengerti bahwa kemampuan dan daya serap anak atau peserta didik itu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itulah, dalam menjalankan kegiatan pembelajaran, guru perlu menggunakan metode yang tepat guna menyikapi fenomena ini. Selain itu, anak mudah bosan jika setiap kali pembelajaran berjalan stagnan dan kaku. Oleh karena itu, Roestiyah dalam bukunya Ulin Nuha menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar dan mengajar, guru harus menguasai serta memiliki strategi agar anak dapat belajar dengan efektif dan efisien, dan mereka juga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu jalan untuk menguasai strategi adalah menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa dikenal dengan istilah metode mengajar. Oleh karena itulah, metode mengajar juga bisa disebut sebagai strategi pengajaran dalam proses belajar dan mengajar. Adapun metode pembelajaran ada berbagai macam,diantaranya:
1.      METODE KAIDAH DAN TERJEMAH
Asumsi yang mendasari metode kaidah & terjemah adalah suatu logika semesta (al-mathiq al-‘alami/ universal logic) yang menyatakan bahwa bahasa di dunia dasarnya sama, dan tata bahasa adlah cabang dari logika. Untuk melihat titik kesamaan itu, perlu dilakukan kajian tata bahasa asing yang dipelajari, dan untuk melihat pokok pikiran yang terkandung oleh tulisan bahsa asing yang dipelajari, perlu di adakan kegiatan transpormasi (terjemahan) kosa katadan kalimat dalam bahasa asing yang di pelajari ke dalam kosa kata/ kalimat dalam pelajar sehari-hari. Jadi inti kegiatan bahasa asing adalah menganalisa tata bahasa, menulis kalimat, dan menghapal kosakata sebagai dasar transpormasinya kedalam bahasa yang digunakan sehari-hari.
Ada dua pendekatan teori yang mendasari penganjaran bahasa, yaitu teori tata bahasa tradisional dan struktual. Keduanya memiliki pandangan yang saling berseberangan dalam hal tata bahasa. Nababan mengatakan bahwa teori tradisional menekankan adanya satu tata bahasa yang semesta (al-qawa’id al-‘alamiyyah/universal grammar), sedangkan teori struktural memandang bahwa struktur bahasa-bahasa di dunia tidak sama. Teori tradisional melihat bahasa secara preskriptif, artinya bahasa yang baik dan benar adalah menurut para ahli bahasa, bukan yang digunakan oleh penuutur asli yang di lapangan. Berbeda dengan teori tradisional, teori stuktural melihat bahasa secara deskriptif, artinya bahasa yang baik dan benar adalah yang digunakan oleh  penutur asli di lapangan.
Ba’labaki (1990: 216) menjelaskan bahwa dasar pokok metode ini adalah hafalan kaidah, analisa gramatika terhadap wacana, lalu terjemahnya kedalam bahasa yang digunakan sebagai pengantar pelajaran. Sedangkan perhatian terhadap kemampuan berbicara sangat kecil. Ini berarti bahwa titik tekan metode ini bukan melatih para pelajar agar pandai berkomunikasi secara aktif, melainkan memahami bahasa secara logis yang didasarkan kepada analisa cermat terhadap aspek kaidah tata bahasa. tujuan metode ini menurut Al-Naqah (2010) adalah agar para pelajar pandai dalam menghafal dan memahami tata bahasa, mengungkapkan ide-ide dengan menerjemahkan bahasa ibu atau bahasa kedua ke dalam bahasa asing yang dipelajari, dan membekali mereka agar mampu memahami teks bahsa asing dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari atau sebaliknya.
Berdasarkan pernyataan tersebut ada dua aspek penting dalam metode kaidah & terjemah : pertama, kemampuan menguasai kaidah tata bahasa ; dan kedua, kemampuan menerjemahkan. Dua kemampuan ini adalah modal dasar untuk mentransfer ide atau pikiran ke dalam tulisan dalam bahasa asing ( mengarang ), dan modal dasar untuk memahami ide atau pikiran yang dikandung tulisan dalam bahasa asing yang dipelajari ( membaca pemahaman ).
Dari konsep dasar tersebut dapat dikemukakan beberapa karakteristik metode kaidah & terjemah yaitu :
a.       Ada kegiatan disiplin mental dan pengenbangan intelektual dalam belajar bahasa dengan banyak penghafalan, dan memahami fakta-fakta.
b.      Ada penekanan pada kegiatan membaca, mengarang dan terjemahan. Sedangkan kegiatan menyimak dan berbicara kurang diperhatikan.
c.       Seleksi kosakata khususnya bedasarkan teks-teks bacaan yang dipakai. Kosakata ini diajarkan melalui daftar-daftar dwibahasa, studi kamus dan penghafalan.
d.      Unit yang mendasar ialah kalimat, maka perhatian lebih banyak di curahkan pada kalimat sebab kebanyakkan waktu para pelajar dihabiskan oleh aktivitas terjemahan kalimat-kalimat terpisah.
e.       Tata bahasa diajarkan secara deduktif, yaitu dengan penyajian kaidah-kaidah bahasa seperti dalam bahasa Latin yang dianggap semesta ( al’alamiyyah/universal). Ini kemudian dilatih lewat terjemahan-terjemahan.
f.       Bahasa pelajar sehari-hari ( bahasa ibu atau bahasa kedua ) digunakan sebagai bahan pengantar .
Di atas kebaikan-kebaikannya yang cukup mewarnai pengajaran bahasa asing, metode kaidah & terjemah harus menerima berbagai kritikkan tajam dari para ahli. Kritikan ini sebagaimana digambarkan oleh Al-Khuli, (1983: 21) berikut ini:
a.       Metode ini terlalu mementingkan kecakapan membaca, menulis, dan terjemah, tidak mementingkan kecakapan berbicara. Padahal kecakapan berbicara adalah pokok dalam bahasa.
b.      Metode ini lebih mementingkan penggunaan bahasa ibu dan kedua. Akibatnya perhatian terhadap penggunaan bahasa asing yang dipelajari menjadi sedikit.
c.       Menggunakan metode ini berarti mengajar tentang bahasa asing, sebab analisa kaidah tata bahasa secara mendetail sebenarnya termasuk kawasan analisa ilmiah bahasa, bukan memantapkan kecakapan berbahasa.
Langkah-langkah penggunaan metode kaidah dan terjemah,contoh penerapan metode yang mungkin dilakukan oleh guru bahasa Arab adalah sebagai berikut ;
a.       Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaitan dengan materi yang akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atau yang lainnya.
b.      Guru memberikan pengenalan dan definisi kaidah-kaidah tertentu dalam bahasa Arab yang harus dihapalkan sesuai dengan materi yang akan disajikan, berikut terjemahannya dalam bahasa pelajar. Contoh: jika materi yang akan disajikan mengandung kaidah mubtada-khabar, maka langkah yang akan dilakukan adalah:
1)      Mengenalkan konsep mubtada-khabar berikut definisi keduanya dan terjemahnya ke dalam bahasa pelajar.
2)      Memberikan contoh-contoh seperlunya, jika diperlukan mengadakan perbandimgan dengan kaidah bahasa pelajar sehari-hari untuk membantu pemahaman para pelajar.
3)      Setelah itu guru menjelaskan contoh-contoh seperlunya, misalnya:
هذا تلميذ, محمد تلميذ, أنتَ تلميذ, هذا قلم, القلم جديد
هذه تلميذة, عائشة تلميذة,  Ø£Ù†Øªِ تلميذة, هذه حقيبة, الحقيبة جديدة
Dalam hal ini guru menjelaskan bahwa setiap dua kata yang digarisbawahi pada contoh-contoh itu merupakan pasangan mubtada-khabar yang tidak boleh tertukar, kemudian dianalisis sampai i’rabnya. Juga guru menjelaskan bahwa ada kategori mudzakkar (laki-laki) dan muannas (perempuan) yang masing-masing memiliki aturan yang berbeda.
4)      Setelah para pelajar benar-benar memahami konsep mubtada-khabar, guru membimbing mereka untuk menghafalkan definisinya dengan disiplin.
c.       Jika ada kosa kata yang dipandang sulit untuk diterjemahkan, guru menjelaskan kosakata sebelum menginjak ke langkah aplikasi.
d.      Guru memberikan materi teks bahasa Arab sebagai materi pokok (diambil dari buku pegangan), lalu mengajak para pelajar untuk menerjemahkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai ke paragraf demi paragraf. Para pelajar setelah itu disuruh untuk mencocokkan kaidah-kaidah yang telah dihafalkan dengan teks baru ini. Dalam hal ini diharapkan dengan mereka dpat mengidentifikasi mubtada­-khabar sebagaimana mubtada-khabar yang telah meraka hafalkan, lalu menganalisis sampai detail sebagaimana poin 2 di atas.
e.       Setelah para pelajar selesai mengidentifiksi mubtada-khabar dengan baik, guru memberikan daftar kosakata untuk dihapalkan. Kata-kata itu lepas dari konteks kalimat, dan guru menyuruh para pelajar untuk memberikan terjemahan kosa kata itu.
f.       Sebagai kegiatan akhir, guru memberikan pekerjaan rumah yang berupa persiapan terjemahan untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
Adapun kelebihan dan kekurangan metode kaidah dan terjemah,yaitu:
Kelebihanya :
1.      Para pelajar bisa hapal kosakata dalam jumlah yang relatif banyak dalam setiap pertemuan.
2.      Para pelajar mahir menerjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa sehari-hari atau sebaliknya.
3.      Para pelajar bisa hapal kaidah-kaidah bahasa asing yang disampaikan dalam bahasa sehari-hari karena senantiasa menggunakan terjemahan dalam bahasa sehari-hari.
Kekurangannya:
1.      Analisis tata bahasa mungkin baik bagi mereka yang merancangnya, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat membingungkan para pelajar karena rumitnya analisis itu.
2.      Terjemahan kata demi kata, kalimat demi kalimat sering mengacaukan makna kalimat dalam konteks yang luas.
3.      Para pelajar mendapat pelajaran dalam satu ragam tertentu, sehingga mereka tidak atau kurang mengenal ragam-ragam lainnya yang lebih luas.
4.      Para pelajar menghapalkan kaidah-kaidah bahasa yang disajikan secara preskriptif. Mungkin saja kaidah-kaidah itu tidak berlaku bagi bahasa sehari-hari.
5.      Para pelajar sebetulnya tidak belajar menggunakan bahasa asing yang dipelajari, melainkan belajar membicarakan tentang “bahasa yang baru”.[5]
2.     Metode Langsung
Metode langsung berasumsi bahwa belajar bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yakni penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi. Para pelajar, menurut metode ini, belajar bahasa asing dengan cara menyimak dan berbicara, sedangkan membaca dan mengarang dapat dikembangkan kemudian, sebab inti bahasa adalah menyimak dan berbicara. Oleh karena itu mereka harus dibiasakan berpikir dengan bahasa asing. Maka untuk mencapai ini semua penggunaan bahasa ibu dan bahasa kedua ditiadakan sama sekali. Bahkan unsur tata bahasa di dalam metode ini tidak terlalu diperhatikan, sebab tekanan intinya adalah bagaimana agar pelajar pandai menggunakan bahasa asing yang dipelajari. Tata bahasa hanya diberikan melalui situasi (kontekstual) dan dilakukan secara lisan, bukan dengan cara menghafalkan kaidah-kaidah.
Metode langsung memiliki tujuan agar para pelajar mampu berkomunikasi dengan bahsa asing yang dipelajarinya seperti pemilik bahasa ini. Dari konsep metode langsung di atas, dapat dikemukakan bahwa karakteristik metode langsung adalah;
a.       Berbahasa adalah berbicara, maka berbicara merupakan aspek yang harus diprioritaskan.
b.      Sejak dini pelajar dibiasakan berfikir dalam bahasa asing yang dipelajari.
c.       Bahasa ibu dan bahasa kedua atau terjemahan ke dalam dua bahasa tersebut tidak digunakan.
d.      Tidak begitu memperhatikan tata bahasa, kalaupun ada hanya dibarikan dengan mengulang-ulang contoh kalimat secara lisan, bukan dengan menjelaskan definisi atau menghapalnya.
e.       Ada asosiasi langsung antara kata-kata/ kalimat-kalimat dengan makna yang dimaksud melalui peragaan/ demonstrasi, gerakan, mimik muka, gambar, bahkan alam nyata.
f.       Untuk memantapkan pelajar dalam menguasai bahasa asing yang dipelajari, pengajar membarikan latihan berulang-ulang dengan contoh dan hafalan.
Ada tiga metode yang sangat lekat dengan metode langsung. Ketigaya memiliki titik tekan dalam penggunaan bahasa Asing yang dipelajari secara langsung dalam proses belajar mengajar, maka penggunaan bahasa ibu atau kedua sedapat mungkin dihindari.
a.       Metode psikologi, disebut metode psikologi karena proses pembelajarannya di dasarkan atas pengamatan perkembangan mental dan asosiasi pikiran. Beberapa ciri yang melekat pada metode ini antara lain:
1)      Penggunaan benda, diagram, gambar,dan chart untuk menciptakan gambaran mental dan menghubungkannya dengan kata yang ucapkan.
2)      Kosa kata dikelompokkan ke dalam ungkapan-ungkapan pendek yang berhubungan dengan suatu masalah yang masih satu pelajaran.
3)      Pelajaran mula-mula diberikan secara lisan, kemudian diberikan bagian demi bagian  berdasarkan materi dari buku.
4)      Jika sangat diperlukan, bahasa pelajar dapat digunakan.
5)      Pelajaran mengarang baru diperkenalkan setelah diberikan beberapa pelajaran terlebih dahulu.
b.      Metode fonetik (al-thariqah al-shautiyyah/ phonetic method)
Metode ini dikenal juga dengan metode ucapan (al-thariqah al-shautiyyah/ oral method). Disebut metode fonetik karena materi pelajaran ditulis dalam nitasi fonetik, buka ejaan seperti yang lazim digunakan. Dalam prakteknya metode ini mengawali proses pembelajaran dengan latihan pendengaran terhadap bunyi. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan pengucapan kata, lalu kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang. Selanjutnya kalimat-kalimat tersebut dirangkaikan menjadi percakapan dan cerita.
c.       Metode alamiah (al-thariqah al-thabi’iyyah/ natural method)
Metode ini merupakan kelanjutan metode fonetik. Disebut alamiah karena belajar bahasa Asing disamakan seperti belajar bahasa ibu. Belajar bahasa ibu biasanya didasarkan kepada perilaku atau kebiasaan sehari-hari yang berlangsung secara alamiah. Karena itu metode alamiah kadang-kadang disebut metode kebiasaan (al-thariqah al-‘adiyyah/ custumary method). Di dalam belajar bahasa ibu, seorang anak memulai menyerap bahasa dengan menyimak dan meniru bahasa yang digunakan oleh orang dewasa, lalu iya mengucapkan apa yang iya simak secara berulang-ulang.
Secara umum langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a.         Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaitan dengan materi yang akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atang yang lainnya.
b.        Guru membarikan materi berupa dialog-dialog pendek yang rileks, dengan bahasa yang biasanya digunakan sehari-hari secara berulang-ulang.
c.         Pelajar diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancar.
d.        Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya secara bergiliran.
e.         Struktur/ tata bahasa diberikan dengan menganalisa nahwu, melainkan dengan memberikan contoh-contoh secara lisan yang sedapat mungkin menarik perhatian pelajar untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan sendiri. Misalnya di dalam percakapan di atas ada pola mubtada-khabar, dalam hal ini cukum dengan menyebutkan:
ما هذا ؟ هذا => قلم
ما هذه ؟ هذه => حقيبة
Tentu saja tidak dengan menjelaskan atau menghapal definisi, melainkan dengan mengulang-ulang contoh secara lisan sambil menunjukkan pasangannya agar pelajar tidak keliru antara mu’annas dan mudzakkar. Penyajian ini memungkinkan untuk dibantu dengan alat peraga, misalnya berupa kartu yang memasangkan pola-pola kaidah yang dimaksud.
Adapun kelebihan dan kekurangan metode langsung,yaitu:
  1. Kelebihannya:
a)      Dengan kedisiplinan mendengarkan dan menggunakan pola-pola dialog secara teratur para pelajar bisa terampil dalam menyimak dan berbicara, sebab prioritas utamanya memang menyimak dan berbicara.
b)      Dengan banyak peragaan/ demonstrasi, gerakan, penggunaan gambar, bahkan belajar di alam nyata para pelajar bisa mengatahui banyak kosa kata.
c)      Dengan banyak latihan pengucapan secara ketat dalm bimbingan guru para pelajar bisa memiliki lafal yang relatif lebih mendekati penutur asli.
d)     Para pelajar mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap, khususnya mengenai topik-topikyang sudah dilatih dalam kelas.
  1. Kekurangannya:
a)      Metode ini memiliki prinsip-prinsip yamg mungkin dapat diterima oleh sekolah-sekolah yang jumlah pelajarnya tidak banyak. Maka kemungkinan akan mendapat kesulitan jika diterapkan di sekolah-sekolah yang jumlah pelajarnya banyak.
b)      Medote ini menuntut para guru yang mempunyai kelancaran berbicara seperti penutur asli.
c)      Metode ini mengadalkan kemahiran guru dalam menyajikan meteri, bukan buku-buku teks yang baik.
d)     Metode ini menghindari pengguaan bahasa ibu dan bahasa kedua atau terjemahan. Hal ini justru bisa menghambat kemajuan pelajar, sebab banyak waktu dan tenaga terbuang dalam menerangkan kata yang abstrak (tidak bisa diragakan atau digambarkan) atau konsep tertentu dalam bahasa asing.
e)      Kesalahan yang keluar dari guru akan sulit diketahui dibandingkan dengan kesalahan yang keluar dari pelajar, sebab jika pelajar melakukan kesalahan dalam pola-pola tertentu maka dapat dideteksi segera.
f)       Jika dicermati konsep yang mengatakan bahwa pemerolehan bahasa ibu dengan bahasa kedua dan bahasa asing itu sama, maka secara psikologis konsep ini tidak memiliki dasar teori yang kuat.[6]
3.     Metode Audiolingual
Metode audiolingual adalah metode mendasarkan diri kepada pendekatan struktual dalam pembelajaran bahasa. sebagai implikasinya metode ini menekankan penelaahan dan pendeskripsian suatu bahasa yang akan dipelajari dengan memulainya dari sistem bunyi (fonologi), kemudian sistem pembentukkan kata (morfologi), dan sistem pembentukkan kalimat (sintaksis). Karena menyangkut struktur bahasa secara keseluruhan, maka dalam hal ini juga ditekankan sistem tekanan, nada, dan lain-lain. Maka bahas tujuan diajarkan dengan mencurahkan perhatian pada lafal kata, dan pada latihan berkali-kali (drill) secara intensif. Jika melihat konsep dasarnya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aplikasinya, yaitu:
  1. Pelajar harus menyimak, kemudian berbicara, lalu membaca, dang akhirnya menulis.
  2. Tata bahasa harus disajikan dalam bentuk pola-pola kalimat atau dialog-dialog dengan topik situasi-situasi sehari-hari.
  3. Latihan (drill/ al-tadribat) harus mengukuti operant-conditioning seperti yang telah dijelaskan. Dalam hal ini hadiah adalah beik diberikan.
  4. Semua unsur tata bahasa harus disajikan dari yang mudah kepada yang sukar atau bertahap.
  5. Kemungkinan-kemungkinan untuk membuat kesalahan dalam memberikan respon harus dihindari, sebab penguatan positif dianggap lebih efektif daripada penguatan negatif.
Terlihat bahwa metode audiolingual pada dasarnya tidak hanya menekankan latihan dan pembiasaan para pelajar untuk membentuk kecakapan berbahasa, tetapi juga kecermatan pengajar dalam membimbing mereka sangat diperhatikan.
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dipeerlukan langkah-langkah yang dianggap cocok. Misalnya saja langkah yang dipilih adalah sebagai berikut:
a.    Pendahuluan, memuat berbagai hal yang berkaiatan dengan materi yang akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atau yang lainnya.
b.    Penyajian dialog/ bacaan pendek yang dibacakan oleh guru berulang kai, sedangkan pelajar menyimaknya tanpa meluhat pada teks.
c.    Peniruan dan penghapalan dialog/ bacaan pendek dengan teknik meniru setiap kalimat secara serentak dan menghapalkannya. Didalam pengajaran bahasa, teknik ini dikenal denga teknik “peniruan-penghapalan”.
d.   Penyajian pola-pola kalimat yang terdapat dalam dialog/ bacaan yang dianggap sulit karena terdapat struktur atau ungkapan-ungkapan yang sulit.
e.    Dramatisasi dari dialog/ bacaan yang sudah dilatihkan, pelajar yang sudah hapal disuruh mempergunakannya di muka kelas.
f.     Pembentukkan kalimat-kalimat lain yang sesuai dengan pola-pola kalimat yang sudah ada dilatihkan.
g.    Penutupan (jika perlu) misalnya dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Dalam hal ini pelajar disuruh berlatih kembali dalam menggunakan pola-pola yang sudah dipelajarinya di sekolah.
Adapun kelebihan dan kekurang metode audiolingual
  1. Kelebihannya:
a)      Para pelajar menjadi terampil dalam membuat pola-pola kalimat yang sudah di-drill.
b)      Para pelajar mempunyai lafal yang baik atau benar
c)      Para pelajar tidak tinggal diam dalam dialog tetapi harus terus menerus memberi respon pada rangsangan yang diberikan oleh guru.
  1. Kekurangannya:
a)      Para pelajar cenderung untuk memberikan respon secara serentak (atau secara individual) seperti “membeo”, dan sering tidak mengetahui makna yang diucapkannya. Respon ini terlalu mekanitis.
b)      Para pelajar tidak diberi latihan dalam makna-makna lain dari kalimat yang dilatih bedasarkan konteks. Sebagai akibatnya mereka hanya menguasai satu makna atau arti dari suatu kalimat, dan komunikasi hanya dapat lancar apabila kalimat-kalimat yang digunakan diambil dari kalimat-kalimat yang sudah dilatihkan dikelas, bahkan pengajaran struktur kalimat lebih menekankan aspek reseptif.
c)      Sebetulnya para pelajar tidak berperan aktif tetapi hanya memberikan respon pada rangsangan yang diberika oleh guru. Jadi gurulah yang menentukan semua latihan dan materi pelajaran di kelas. Dialah yang mengetahui jawaban atas semua pertannyaan yang diajukan di kelas. Dengan kata lain penguasaan kegiatan dalam kelas dapat disebut “dikuasai sepenuhnya oleh guru”.
d)     Metode ini berpendirian bahawa jika pada tahap-tahap awal para pelajar tidak/ belum mengerti makna dari kalimat-kalimat yang ditirunya, tidak dianggap sebagai hal yang meresahkan. Selanjutnya dengan menyimak apa yang dikatakan oleh guru, memberi respon yang benar, den melakukan semua tugas tanpa salah, pelajar sudah dianggap belajar bahasa tujuan dengan benar. Jika dianalisis pendirian ini kurnag dapat diterima, sebab meniru tanpa mengetahui makna adalah suatu aktivitas yang mubadzir.[7]
4.     Metode Membaca
Salah satu kegiatan pentig untuk memperoleh informasi itu adalah membaca, mulai dari membaca nyaring sampai pemahaman. Dari sini jelaslah bahwa metode membaca selain menekankan kemampuan membaca diam untuk pemahaman, juga memandang penting kemampuan pengucapan yang benar, sehingga membaca secara nyaring merupakan kegiatan yang banyak dilatihkan.
Dengan demikian dapat dikemukan bahwa dasar metode membaca adalah penguasaan bahasa asing dengan memulainya dari penguasaan unsur bahasa yang terkecil, yaitu kosakata, yang didahului oleh latihan pengucapan yang benar, lalu pemahaman. Penguasaan unsur bahasa yang terkecil akan menentukan penguasaan bahasa secara keseluruhan. Sedangkan pengucapan kata dan pelafalan kalimat yang baik dan benar merupakan modal dasar membaca yang baik dan benar.
Adapun langkah-langkah penggunaan metode membaca,yaitu:
a.        Pendahuluan, berkaitan dengan berbagai hal tentang materi yang akan disajikan baik berupa appersepsi, atau tes awal tentang materi, atau yang lainnya.
b.      Pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar. Ini diberikan denga definisi-definisi dan contoh-contoh dalam kalimat.
c.       Penyajian teks bacaan tertentu. Teks ini dibaca secara diam selama kurang lebih 10-15 menit atau disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Bisa juga guru menugaskan para pelajar untuk membaca teks ini di rumah masing-masing pelajar sebelum pertemuan ini. Cara ini nampaknya lebih menghemat waktu, sehingga guru dapat lebih leluasa mengembangkan bacaan di kelas.
d.      Diskusi mengenai isi bacaan. Langkah ini dapat berupa dialog dengan bahasa pelajar.
e.       Pembicaraan atau penjelasan tentang tata bahasa secara singkat jika diperlukan untuk membantu pemahaman pelajar tentang isi bacaan.
f.       Jika guru di awal pertemuan belum membarikan penjelasan kosakata yang dianggap sukar dan relevan denga materi pelajaran, maka pada langkah ini bisa dilakukan.
g.      Di akhir pertemuan guru memberikan tugas kepada para pelajar tentang isi bacaan, misalnya: membuat rangkuman dengan bahasa pelajar, atau membuat komentar tentang isi bacaan, atau membuat diagram, atau yang lainnya. Jika dipandang perlu, guru dapat memberikan tugas rumah untuk membaca teks yang akan diberikan pada pertemuan selanjutnya (seperti pada poin no 3 di atas).
Adapun kelebihan dan kekurangan metode membaca,yaitu:
  1. Kelebihannya:
a)      Memberikan kemampuan membaca yang baik kepada para pelajar bahasa asing baik membaca nyaring yang melibatkan pengucapan, maupun mmbaca pemahaman.
b)      Membaca yang baik adalah komunikasi pembaca dengan bahan bacaan. Komunikasi ini adalah modal untuk memahami isi bacaan dengan baik.
c)      Kemampuan membaca yang tinggi memudahkan pembaca untuk memahami budaya bahasa asing yang dipelajari.
  1. Kekurangannya:
a)      Metode membaca mungkin cocok diberikan kepada para pelajar yang gemar membaca, tetapi kurang cocok bagi mereka yang tidak gemar membaca. Bisa jadi yang tidak gemar membaca akan mengalami kejenuhan belajar.
b)      Terlalu menekankan perhatian kepada kemampuan membaca dapat mengakibatkan kurangnya kemampuan pelajar berkomunikasi secara lisan dengan bahasa asing yang dipelajari.
c)      Membaca yang cepat kadang-kadang hanya memperhatikan aspek kuantitas, sedangkan aspek kualitas diabaikan. Ini mengakibatkan pemahaman tidak mendalam terhadap suatu persoalan dalam bacaan.
h.    Metode Gabungan
Yang dimaksud gabungan di sini tentu saja bukan menggabungkan semua metode yang ada sekaligus, melainkan lebih bersifat “tambal-sulam” , artinya suatu metode tertentu dipandang dapat mengatasi kekurangan metode yang lain.
Munculnya metode gabungan dengan demikian merupakan kreativitas para pelajar bahasa asing untuk mengefektifkan proses belajar mengajar bahasa asing. Metode ini juga sekaligus memberikan kebebasan kepada mereka untuk menciptakan variasi metode.
Ada enam (6) hal yang menjadikan pijakan metode gabungan sebagaimana dijelaskan oleh Al-khuli (1983: 26) :
  1. Setiap metode pengajaran bahasa asing memiliki kelebihan. Kelebihan ini bisa dimanfaatkan dalam pengajaran bahasa asing.
  2. Tidak ada metode yang sempurna, dan juga tidak ada metode yang jelek, tetapi semuanya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan metode tertentu bisa jadi dapat mengatasi kelemahan metode tertentu.
  3. Setiap metode memiliki latar belakang, karakteristik, dasar pikiran, dan peruntukan yang berbeda, bahkan bisa jadi suatu metode muncul karena menolak metode sebelumnya. Jika metode-metode tersebut digabungkan, maka akan menjadi suatu kolaborasi yang saling menyempurnakan.
  4. Tak ada satu metode pun yang sesuai dengan semua tujuan, semua siswa, semua guru, dan semua program pengajaran bahasa asing.
  5. Hal yang penting dalam mengajar adalah memberi perhatian kepada para pelajar dan kebutuhannya, bukan menguasai metode tanpa didasarkan kepada pelajar dan kebutuhannya.
  6. Setiap guru bahasa asing diberi kebebasan untuk menggunakan langkah-langkah atau teknik-teknik dalam menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan para pelajarnya dan sesuai dengan kemampuannya.
Langkah-langkah penggunaan metode gabungan,Misalnya langkah yang ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:
  1. Pendahuluan, sebagaimana metode-metode lain.
  2. Memberikan materi berupa dialog-dialog pendek dan rilek, dengan tema kegiatan sehari-hari secara berulang-ulang. Materi ini mula-mula disajikan secara lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi, atau gambar-gambar.
  3. Para pelajaran diarahkan untuk disiplin menyimak dialog-dialog tersebut, lalu menirukan dialog-dialog yang disajikan sampai lancar.
  4. Para pelajar dibimbing menerapkan dialog-dialog itu dengan teman-temannya secara bergiliran.
  5. Setelah lancar menerapkan dialog-dialog yang telah dipelajari, mereka diberi teks bacaan yang temanya berkaitan dengan dialog-dialog tadi. Selanjutnya guru memberi contoh cara membaca yang baik dan benar, diikuti oleh para pelajar secara berulang-ulang.
  6. Jika terdapat kosakata yang sulit, guru memaknainya mula-mula dengan isyarat, atau gerakan, atau gambar, atau lainnya. Jika tidak mungkin dengan ini semua, guru menerjemahkannya ke dalam bahasa pelajar.
  7. Guru mengenalkan beberapa struktur yang penting dalam teks bacaan, lalu membahasnya seperlunya.
  8. Guru menyuruh para pelajar menelaah bacaan, lalu mendiskusikan isinya.
  9. Sebagai penutup, jika diperlukan, evaluasi akhir berupa pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan yang telah dibahas. Pelaksanaannya bisa saja secara individual atau kelompok, sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika tidak memungkinkan karena waktu, misalnya, guru dapat menyajikannya berupa tugas yang harus dikerjakan dirumah masing-masing pelajar.
Adapun kelebihan dan kekurangan metode gabungan,yaitu:
Walaupun terlihat kegiatannya lebih variatif, kemampuan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing dipandang lebih merata, namun menggunakan metode gabungan nampaknya akan bermasalah dengan kesediaan guru dan siswa, dan alokasi waktu.
Belum tentu semua guru sanggup melakukan serangkaian kegiatan mengajar yang begitu banyak dan bervariasi. Penggunaan metode ini nampaknya menuntut adanya guru yang segala bisa dan energik. Begitu juga di pihak pelajar. Biasanya kegiatan yang terlalu banyak malah bisa menimbulkan kejenuhan belajar, apalagi jika materi dibawakan secara menonton. Waktu yang diperlukan juga relatif lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode yang lain, padahal umumnya alokasi waktu pelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonrsia terbatas, kecuali di sekolah-sekolah tertentu yang memberikan perhatian lebih kepada bidang studi bahasa Arab.[8]
  1. PENGERTIAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu perang. Berdasarkan pengertian ini, maka strategi adalah suatu seni merancang opreasi didalam peperangan seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang. Strategi dapat juga diartikan suatu keterampilan mengatur kejadian atau peristiwa. Secara umum sering dikemukakan bahwa strategi merupakan suatu teknik yang digunakan mencapai suatu tujuan.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, strategi adalah ilmu siasat perang untuk mencapai sesuatu. Apabila dihubungkan dengan pengertian strategi dalam pembelajaran bahasa Arab, strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Sedangkan dalam konteks pembelajaran , menurut Gagne strategi adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Artinya bahwa proses pembelajaran akan menyebabkan peserta didik berpikir secara unik untuk menganalisis, memecahkan masalah dalam mengambil keputusan. Peserta didik akan mempunyai control yang tinggi yaitu analisis yang tajam, tepat dan akurat.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan  pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien srtartegi juga berarti sebuah cara tertentu untuk menagani sebuah problematika atau pekerjaan.
Strategi ini berbentuk tindakan tindakan untuk menghasilkan sesuatu, atau rencana-rencana yang mengatur dan menangani pengetahuan tertentu sehingga strategi selalu berkembang satu sama lain, hari demi hari, tahun semi tahun. Adapun upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat tercapai secara optimal, inilah yang dinamakan metode.
Ini berarti, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, dapat terjadi satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Oleh karena itu, strategi berbeda dengan metode, strategi menunjukkan pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach) dalam bahasa arab di sebut al-madkhal. Sebenarnya pendekatan berbeda dengan strategi maupun metode.
Menurut Edwar Anthony (1963) pendekatan adalah seperangkat asumsi berkenaan hakekat bahasa dan belajar mengajar bahasaKurang efektifnya pembelajaran bahasa Arab yang ada disekolahsekolah dan pondok pesantren salah satu penyebabnya adalah pendekatan dan strategi yang digunakan kurang sesuai dengan jiwa dan karakter peserta didik.
  1. PEMBAGIAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi sebagai dasar pembelajaran menurut newman dan logan
meliputi empat komponen utama, yaitu:
1.      Mengefektikan tujuan pembelajaran;
Keaktifan belajar siswa dalam bahasa menjadi kunci, baikaktif belajar maupun penegembangan materi kebahasaan. Strategi yang diambil harus senantiasa bermuara untuk menciptakan keaktifan, baik secara fisik maupun mental, akan tetapi aktif mental lebih diutamakan.
2.       Menentukan kembali pendekatan pembelajaran
Dalam belajar bahasa,seseorang diberi kebebasan untuk menggunakan strategi yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah strategi yang dapat menggugah semangat untuk mengembangkan ilmu yang telah diterima. Sehingga peserta didik setelah belajar merasa ilmu yang sedang dipelajari bermanfaat dan mempunyai keberanian untuk mengekspresikan ide atau gagasan kepada teman
3.      Menetapkan langkah-langkah yang ditempuh  sejak awal sampai akhir.
Belajar bahasa Arab harus mengikuti pola tadarruj (dari
yang mudah sampai ke yang sulit).
4.       Menetapkan ukuran keberhasilan.
  1. KRITERIA PEMILIHAN STARTEGI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Pemilihan strategi dalam pembelajaran bahasa Arab memuat dua hal penting yakni pemilihan strategi belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan pemilihan strategi mengajar yang harus dilakukan oleh tenaga pendidik Strategi mengajar mengacu pada prilaku dan proses berpikir yang digunakan peserta didik, sedangkan strategi mengajar berkaitan dengan pendekatan, metode dan teknik yang dikuasai dan digunakan pengajar dalam pembelajaran.
Pemilihan strategi pembelajaran Bahasa Arab dapat berdasarkan pertimbangan atau Kriteria sebagai berikut :
1.      Tujuan Belajar
Startegi pembelajaran harus dipilih sesuai dengan tujuan belajar yang diharapkan dapat dicapai peserta didik. Tujuan belajar merupakan titik tolak penentuan strategi yang akan digunakan. Misalnya tujuan belajar siswa dapat memahami jumlah ismiah. Dengan demikian metode yang dipakai sebagai bagian dari strategi adalah menggunakan metode qawa’id dan terjemah.
2.       Materi atau isi pelajaran
Peranan materi atau isi pelajaran yaitu, pertama, mencerminkan suatu sudut pandang yang tajam dan inovatif mengenai pengajaran serta mendemontrasi aplikasinya dalam bahan ajar yang disajikan. Kedua, menyajikan suatu sumber pokok masalah yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik, ketiga menyedia sumber yang tersusun rapi dan bermanfaat, keempat, menyajikan metode-metode dan sarana-sarana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik, kelima menjadi penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis keenam, menyajikan bahan evaluasi dan remedial.
3.      Peserta Didik
Peserta didik sebagai orang yang belajar merupakan subjek dalam proses pembelajaran. Dalam pemilihan strategi pembelajaran yang efektif harus memperhatikan karakteristik peserta didik yang memiliki potensi dan firah yang dimiliki dan sekaligus harapan untuk berkembang kearah yang lebih baik dan menjadi pribadi yang sempurna. Adapun karakteristik peserta didik adalah sebagai berikut :
a.       Kematangan mental dan kecakapan intelektual
b.      Kondisi pisik dan kecakapan psikomotor
c.        Umur
d.       Jenis kelamin
4.      Kondisi pendidikan dimana berlansung
Efektif tidaknya suatu strategi pembelajaran sangat dipengaruhi kemampuan guru memakainya disamping kepribadian guru.
5.       Waktu,
Waktu yang tersedia  perlu diperhatikan ketika meyampaikan materi bahasa Arab dengan menggunakan strategi tamsil atau al naql sementara waktu yang disediakan hanya menit. Maka waktu tersebut harus diguna seefektif mungkin sehingga kompetensi dasar peserta didik dapat tercapai.
6.      Sarana yang dapat dimanfaatkan.
7.      Biaya.[9]


BAB III
PENUTUP

Simpulan
Metode pembelajaran adalah tingkat perencanaan program yang bersifat menyeluruh yang berhubungan erat dengan langkah-langkah penyampaian materi pelajaran secara prosedural,tidak saling bertentangan, dan tidak bertentangan dengan pendekatan. Metode pembelajaran Bahasa Arab ada berbagai macam, diantaranya metode kaidah dan terjemah, metode langsung,metode audiolingual,metode membaca,dan metode gabungan. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan  pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien srtartegi juga berarti sebuah cara tertentu untuk menagani sebuah problematika atau pekerjaan. Strategi pembelajaran meliputi empat komponen utama, diantaranya mengefektifkan tujuan pembelajaran, menentukan kembali pendekatan pembelajaran,menetapkan langkah-langkah yang ditempuh dari awal sampai akhir,dan menetapkan ukuran keberhasilan.Selain itu,dalam pemilihan strategi belajar harus memperhatikan beberapa criteria,diantaranya,tujuan belajar,materi atau isi pelajaran,peserta didik,kondisi pendidkan dimana berlangsung, waktu, sarana yang dimanfaatkan serta biaya.


DAFTAR PUSTAKA

Hamid,Abdul,Et.al,Pembelajaran Bahasa Arab,Pendekatan,Metode,Strategi dan
Media.
Hermawan,Acep,Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.Bandung,PT Remaja
Rosdakarya,2011.
Naifah,Teratai Metode Pembelajaran Bahasa Arab Efektif,Aplikatif.Semarang,
Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo,2012.
Nuha,Ulin,Metodologi Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab.Jogjakarta,        Diva Press,2012.
Yusraini,Strategi Pembelajaran Bahasa Arab dan Implikasinya Terhadap Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab.pdf


[1] Naifah, Teratai Metode Pembelajaran Bahasa Arab Efektif Aplikatif, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2012), hlm. 37. 
[2] Ulin Nuha, Metodologi Super Efektif Pembelajaran Bahasa Arab, (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), hlm 159.
[3] Abdul Hamid dkk,Pembelajaran Bahasa Arab Pendekatan, Metode,Strategi dan Media, hlm. 3.
[4]  Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hlm 168.
[5]  Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 169-175.
[6]  Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 175-184.
[7]  Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 184-192.
[8] Acep Hermawan,Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011),hal 192-199.
[9]  Yusraini,Strategi Pembelajaran Bahasa Arab dan Implikasinya Terhadap Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab.pdf Diakses pada tanggal 26 september 2016 pukul 13.32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar