BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Belajar, Pembelajaran dan IPA
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi,
keterampilan, dan sikap. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan
usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya, mendapatkan ilmu atau kepandaian
yang belum dipunyai sebelumnya.
Sedangkan menurut Slameto (2003:13) menyatakan “belajar merupakan
suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya”. Untuk mendapatkan sesuatu seseorang
harus melakukan usaha agar apa yang di inginkan dapat tercapai. Usaha tersebut
dapat berupa kerja mandiri maupun kelompok dalam suatu interaksi.
Pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja
oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar
(Sudjana). Pembelajaran sebagai usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang
mengoptimalkan kegiatan belajar (Gulo). Pembelajaran sebagai suatu aktivitas
mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaiknya dan menghubungkan dengan anak
didik sehingga terjadi proses belajar (Nasution).[1]
Pembelajaran dalam pengertian kuantitatif yaitu penularan pengetahuan
dari guru kepada murid. Pembelajaran dengan pengertian Institusional yaitu
penataan segala kemampuan mengajar sehingga dapat berjalan efisien.
Pembelajaran dengan pengertian kualitatif yaitu upaya guru untuk memudahkan kegiatan
belajar dengan siswa. Jadi, pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan
dengan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan,
mengorganisasi dan menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga
siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta hasil
yang optimal.[2]
Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah
sains. Kata sains ini berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya
tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains
berasal dari kata science yang berarti pengetahuan. Science kemudian berkembang
menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu
pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia
dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).
Definisi tentang IPA (sains) telah banyak dikemukakan, antara lain
menurut Supriyadi (2010: 2), para ilmuwan sepakat bahwa IPA adalah suatu bentuk
metode yang berpangkal pada pembuktian hipotesa. Sebagian filosof menyatakan
bahwa pada hakikatnya IPA adalah jalan untuk mendapatkan kebenaran dari apa
yang telah kita ketahui. Dalam Pusat Kurikulum (2006: 4), IPA berkaitan dengan
cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan
kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Trianto
(2011: 136-137) menyatakan pada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk
ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Dalam sumber yang sama dinyatakan juga
bahwa IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum
terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah
seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin
tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.
Dengan demikian, IPA pada hakikatnya adalah ilmu untuk mencari
tahu, memahami alam semesta secara sistematik dan mengembangkan pemahaman ilmu
pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip,
dan hukum yang teruji kebenarannya. Namun, IPA bukan hanya merupakan kumpulan
pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip, melainkan suatu proses penemuan dan
pengembangan. Oleh karena itu untuk mendapatkan pengetahuan harus melalui suatu
rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah serta menuntut sikap ilmiah.[3]
B.
Hakikat Belajar dan Pembelajaran IPA
Untuk belajar IPA diperlukan cara
khusus yang disebut dengan metode ilmiah. Metode ilmiah ini menekankan pada
adanya masalah, adanya hipotesa, adanya analisa data untuk menjawab masalah
atau membuktikan hipotesa, dan diakhiri dengan adanya kesimpulan atau
generalisasi yang merupakan jawaban resmi dari masalah yang diajukan.
Dalam Pusat Kurikulum (2006: 7-8),
pembelajaran IPA terpadu mempunyai tujuan. Berikut ini akan diuraikan tujuan
pembelajaran IPA terpadu yaitu:
1.
Meningkatkan
Efisiensi dan Efektivitas
2.
Meningkatkan
minat dan motivasi
3.
Beberapa
kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
Ilmu
Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu memiliki ciri-ciri sebagaimana disiplin
ilmu lainnya. Setiap disiplin ilmu selain mempunyai ciri umum, juga mempunyai
ciri khusus/karakteristik. Adapun ciri umum dari suatu ilmu pengetahuan adalah
merupakan himpunan fakta serta aturan yang yang menyatakan hubungan antara satu
dengan lainnya. Fakta-fakta tersebut disusun secara sistematis serta dinyatakan dengan bahasa
yang tepat dan pasti sehingga mudah dicari kembali dan dimengerti untuk
komunikasi (Prawirohartono, 1989: 93).
Sebagai ilmu,
IPA memiliki karakteristik yang membedakannya dengan bidang ilmu lain.
Ciri-ciri khusus tersebut dipaparkan berikut ini;
a.
IPA
mempunyai nilai ilmiah artinya kebenaran dalam IPA dapat dibuktikan lagi oleh
semua orang dengan menggunakan metode ilmiah dan prosedur seperti yang dilakukan
terdahulu oleh penemunya. Contoh: nilai ilmiah ”perubahan kimia” pada lilin
yang dibakar. Artinya benda yang mengalami perubahan kimia, mengakibatkan benda
hasil perubahan sudah tidak dapat dikembalikan ke sifat benda sebelum mengalami
perubahan atau tidak dapat dikembalikan ke sifat semula.
b.
IPA
merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam
penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan IPA
selanjutnya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga
ditandai oleh munculnya “metode ilmiah” (scientific methods) yang terwujud
melalui suatu rangkaian ”kerja ilmiah” (working scientifically), nilai dan
“sikapi lmiah” (scientific attitudes) (Depdiknas, 2006).
c.
IPA
merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang
khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi,
penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian
seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain.
d.
IPA
merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan baganbagan konsep
yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, yang
bermanfaat untuk eksperimentasi dan
observasi lebih lanjut (Depdiknas, 2006).
e.
IPA
meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap. Produk dapat
berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum. Proses merupakan prosedur pemecahan
masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan
hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian
hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan
kesimpulan. Aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep
IPA dalam kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan rasa ingin tahu tentang obyek,
fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan
masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar.
[1] Journal-eprints.umk.ac.id
> BAB_II, dalam bentuk pdf. Diunduh pada tanggal 07 Agustus 2017
[2] Journal-belajar-dan-pembelajaran.pdf,
diunduh pada tanggal 08 Agustus 2017
[3] Journal-eprints.uny.ac.id
> Hakikat Pembelajaran IPA, dalam bentuk pdf. Diunduh pada tanggal 08
Agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar